Kesehatan Mental Dalam Masa Pandemi

12 Oct 2020 • Tips Kesehatan

Dengan maraknya pandemi COVID-19 ini, banyak aspek dari kehidupan kita mengalami perubahan secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung, dengan adanya pembatasan fisik atau pembatasan sosial, maka kehidupan sehari-hari kita pun mengalami banyak perubahan drastis.

Selain menyebabkan gangguan langsung pada kesehatan fisik, perlu kita ingat bahwa pandemi ini juga dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan mental kita.

Stres dan kecemasan merupakan respons yang normal ketika manusia dihadapkan akan suatu ancaman atau permasalahan.

Namun, bila kedua hal ini terjadi berkepanjangan, maka dampaknya tidak baik untuk tubuh kita. COVID-19 ini datang secara tiba-tiba dan dunia yang sebelumnya tidak pernah mengalami wabah dalam skala ini pun tentu kewalahan.

Hal ini, disertai dengan ketidakpastian akan masa depan kita, pun menimbulkan berbagai masalah seperti rasa takut, kecemasan, hingga depresi.

Ditambah lagi, apabila terdapat orang-orang yang kehilangan anggota keluarga karena wabah ini, atau menghadapi kesulitan ekonomi, serta berbagai masalah lainnya.

Gejala depresi biasanya jelas, misalnya perasaan sedih, tanpa harapan, mudah lelah, malas, dan sulit tidur. Pada depresi yang lebih parah, terdapat gejala-gejala seperti ingin bunuh diri.

Gejala kecemasan biasanya juga dapat dikenali dengan mudah, biasanya dengan ciri-ciri terlalu sering khawatir dan sulit untuk mengendalikan kekhawatiran tersebut. Hal ini juga dapat menyakibatkan gangguan tidur dan palpitasi jantung.

Namun, dengan adanya pandemi, beberapa gangguan pada kesehatan mental biasanya terjadi secara bersamaan sehingga gejala makin sulit untuk dikenali.

Pada awal masa pandemi, hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai bahan pangan yang sulit untuk didapatkan karena adanya fenomena panic buying.

Setelah adaptasi menjadi periode kebiasaan baru, hal ini dapat disebabkan oleh angka kejadian COVID-19 yang tidak kunjung berkurang.

Untuk mengatasi permasalahan ini, solusi terbaik sesungguhnya adalah untuk menemukan dukungan mental seperti bantuan seorang psikolog.

Beberapa aplikasi ponsel pintar pun dapat digunakan untuk sesi terapi daring, dan walau berbayar, aplikasi ini biasanya memiliki harga lebih terjangkau. Selain itu, jangan lupa untuk bersabar dengan diri Anda sendiri.

Pandemi ini merupakan sesuatu yang tidak pernah kita alami sebelumnya, sehingga kekhawatiran yang Anda rasakan sebenarnya normal.

Anda dapat menciptakan sebuah rutinitas baru agar Anda tetap merasa produktif. Selain itu, ingatlah untuk menarik napas ketika Anda merasa panik karena hal ini dapat membantu untuk mengembalikan fokus Anda.

Referensi:

  1. WHO. Mental health & COVID-19 [Internet]. Geneva: WHO; 2020 [cited 2020 Jul 28]. Available from: https://www.who.int/teams/mental-health-and-substance-use/covid-19
  2. WHO. Coping with stress during the 2019-nCov outbreak [Internet]. Geneva: WHO; 2020 [cited 2020 Jul 28]. Available from: https://www.who.int/images/default-source/health-topics/coronavirus/risk-communications/general-public/stress/stress.jpg?sfvrsn=b8974505_14
  3. United Nations. Policy brief: COVID-19 and the need for action on mental health. Geneva: United Nations; 2020 May 13 [cited 2020 Jul 28]. Available from: https://www.un.org/sites/un2.un.org/files/un_policy_brief-covid_and_mental_health_final.pdf