Risiko Stroke pada Wanita Hamil dan Setelah Melahirkan

23 Jul 2020 • Stroke

Stroke tidak umum terjadi pada kehamilan atau selama usia wanita produktif dan dapat memiliki anak. Namun, kehamilan dapat menempatkan wanita pada risiko lebih tinggi untuk terkena stroke.

Kondisi kehamilan dapat membuat jantung dan pembuluh darah tegang. Hal ini disebabkan tubuh wanita hamil membawa berat badan yang lebih banyak selama kehamilan. Selain itu, perubahan hormon juga berkontribusi terhadap perubahan ini.

Meskipun jarang terjadi, pada wanita hamil dapat ditemukan faktor risiko yang meningkatkan risiko stroke, beberapa di antaranya yaitu:

Tekanan darah tinggi

Hipertensi dapat telah ada sebelum kehamilan, selama kehamilan, atau terkait dengan preeklampsia atau eklampsia. Dibandingkan dengan wanita hamil tanpa hipertensi, wanita hamil dengan hipertensi memiliki risiko enam sampai sembilan kali lipat lebih besar mengalami stroke.

Memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan menjadi penyebab utama stroke pada wanita hamil atau wanita yang baru saja melahirkan.

Diabetes gestasional

Diabetes gestasional adalah peningkatan kadar gula darah yang terjadi selama kehamilan dan biasanya hilang setelah melahirkan.

Diabetes gestasional meningkatkan risiko tekanan darah tinggi selama kehamilan sehingga dapat meningkatkan penyakit jantung dan stroke di kemudian hari.

Penggumpalan darah

Kehamilan membuat darah lebih mudah membeku, sehingga selanjutnya dapat menyebabkan stroke. Peningkatan risiko pembekuan darah selama kehamilan terjadi karena pembengkakan akibat kehamilan dapat mengurangi aliran darah ke kaki bagian bawah.

Darah yang tidak bersirkulasi dengan baik akan memiliki kecenderungan lebih besar untuk membeku. Pada akhir kehamilan, tubuh akan memproduksi zat pembekuan darah lebih banyak.

Hal ini merupakan mekanisme untuk melindungi wanita dari perdarahan berlebihan ketika melahirkan. Namun di sisi lain, peningkatan zat pembekuan darah juga meningkatkan risiko stroke.

Infeksi

Infeksi dapat menjadi pemicu stroke, terutama pada usia muda. Hal ini diduga karena infeksi meningkatkan kadar zat pemicu peradangan (inflamasi) yang selanjutnya dapat menyebabkan penggumpalan darah.

Pada kasus preeklampsia dan selama nifas, infeksi yang terjadi dapat memicu stroke dengan memperburuk peradangan yang telah ada sebelumnya.

Gejala stroke berupa sakit kepala, pusing, atau rasa kesemutan di lengan sering disalahartikan sebagai hal wajar yang terjadi karena kehamilan atau setelah melahirkan. Namun, apabila gejala-gejala di atas datang secara tiba-tiba, hal tersebut dapat menjadi tanda adanya serangan stroke.

Gejala lain yang dapat mengindikasikan adanya stroke yaitu mati rasa terutama di satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan, kesulitan melihat, kesulitan berjalan, dan sakit kepala parah tanpa penyebab yang jelas. Segera hubungi petugas medis apabila mengalami atau melihat orang lain mengalami gejala-gejala tersebut.

Referensi:

  1. Pregnancy and stroke: are you at risk? [Internet]. USA: National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion; last updated 2018 Oct 22 [cited 2020 Apr 12]. Available from: https://www.cdc.gov/features/pregnancy-stroke/index.html
  2. Tate J, Bushnell C. Pregnancy and stroke risk in women. Womens Health (Lond) [Internet]. 2011 [cited 2020 Apr 12];7(3):363–374. doi:10.2217/whe.11.19
  3. Miller CE, Gatollari HJ, Too G, Boehme AK, Leffert L, Marshall RS, et al. Risk factors for pregnancy-associated stroke in women with preeclampsia. Stroke [Internet]. 2017 [cited 2020 Apr 12];48:1752–9. doi: 10.1161/STROKEAHA.117.017374