Bantuan

Menunjukkan Hasil Baik, Seperti Apa Vaksin HIV Yang Diujicobakan Pada Primata?

Ditinjau oleh dr. Alvin Saputra • 30 May 2022

Bagikan

vaksin HIV yang mana mulai diujicobakan pada primata menunjukkan hasil baik.

Adanya temuan vaksin HIV yang mana mulai diujicobakan pada primata menunjukkan hasil baik. Terdapat sebuah publikasi terbaru dari nature medicine bahwa adanya temuan vaksin HIV. Dimana vaksin HIV ini diujicobakan pada primata. HIV itu sendiri merupakan penyakit yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini akan menyebabkan penderitanya menjadi rentan terhadap ragam masalah medis. Virus HIV akan merusak sel CD4 dan sistem kekebalan tubuh manusia, semakin kuat virus merusak CD4, maka penderitanya pun mempunyai risiko tinggi untuk terkena berbagai macam infeksi ataupun kanker. 

Faktor Risiko HIV

Sebelumnya, mari mengetahui apa saja yang menjadi faktor risiko HIV, yakni sebagai berikut:

  • Melakukan tindik atau tato di area tubuh dengan reputasi tidak terjamin

  • Kerap kali berganti pasangan

  • Menjalani prosedur medis atau transfusi darah misalnya operasi tranplantasi 

  • Ketika melakukan hubungan seksual, tidak menggunakan alat kontrasepsi

  • Mempunyai risiko tertusuk jarum suntik yang telah tercemar, seperti tenaga kesehatan

  • Menderita penyakit menular seperti herpes, klamidia, gonore, sifilis, dan vaginosis bakteri yang mana merupakan PMS (Penyakit Menular Seksual)

 

Vaksin HIV

Sampai sekarang ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV, maka dari itu penyakit ini menjadi sebuah perhatian penting bagi para ahli kesehatan. Munculnya vaksin HIV menjadi sebuah harapan dimana percobaannya pada primata menunjukkan hasil aman. Selain itu, percobaan ini juga menghasilkan bahwa adanya dorongan terbentuknya antibodi, serta respons kekebalan seluler terhadap virus, termasuk virus HIV. Apa itu kekebalan seluler? Ini merupakan respons kekebalan atau imun untuk tidak melibatka antibodi. Namun, melibatkan respons kekebalan yang mana dilakukan molekul protein. Molekul protein ini tersimpan pada limfa serta plasma darah. 

Vaksin HIV dibuat dengan dasar mRNA teknologi platform sama, yang mana digunakan dalam dua vaksin virus Corona. Di uji coba yang dilakukan tersebut, para peneliti menggunakan kera rhesus dan tikus. Dengan diikuti beberapa inokulasi booster risiko 79 persen lebih rendah. Hal ini jika dibandingkan dengan hewan yang tidak vaksinasi. Diketahui bahwa vaksin HIV ini menggabungkan fitur-fitur yang bisa mengatasi kekurangan vaksin HIV yang lainnya. Vaksin mRNA ini memberikan sebuah instruksi dengan kode. Dimana instruksi tersebut membuat Env dan Gag yang merupakan protein HIV utama di sel otot hewan. 

Vaksin HIV tepatnya mRNA ini kemudian diuji kepada kera atau primata. Dengan rinscian rejimen vaksin yang berbeda antara subkelompok hewan vaksinasi, namun melibatkan priming sistem kekebalan. Akan tetapi, dengan vaksin yang dimodifasi guna memaksimalkan antibodi. Walaupun dosis mRNA yang diberi tinggi, namun vaksin bisa ditoleransi dengan baik. Efek samping yang terjadi pun hanya sementara dan ringan terjadi para kera, yakni seperti hilangnya nafsu makan. 

Disebutkan jika vaksin HIV sudah aman dan dirasa efektif, maka vaksin akan dilanjutkan ke uji coba Tahap 1 dengan sukarelawan dewasa. 

 

Perkembangan HIV ke AIDS

Untuk risiko HIV yang berkembang menjadi AIDS akan bergantung pada penderitanya. Beberapa faktor dibawah ini akan memengaruhi perkembangan HIV ke AIDS:

  • Sistem daya tahan tubuh

  • Virus HIV kebal terhadap obat

  • Usia

  • Ada atau tidaknya infeksi yang menyertai

  • Akses layanan kesehatan

  • Ada atau tidaknya kekebalan terhadap jenis virus HIV tertentu atau disebut faktor genetik

 

Komplikasi HIV

Jika terus dibiarkan begitu saja, tanpa adanya penanganan yang tepat, maka HIV dapat memunculkan komplikasi seperti dibawah ini:

  1. TBC 

TBC atau tuberkolosis menjadi salah satu penyebab kematian paling banyak di ODHA

  1. CMV

CMV atau Cytomegalovirus adalah virus herpes yang mana dapat merangsang komplikasi. Komplikasi ini dalam bentuk kerusakan paru-paru, mata, serta saluran pencernaan. Apabila dialami oleh ia yang memiliki daya tahan tubuh lemah. 

  1. Toksoplasmosis

Komplikasi ini merupakan infeksi parasit toxoplasma gondi yang mana dapat merangsang kejang-kejang dan penyakit jantung. 

  1. Kandidiasis

Ini merupakan infeksi jamur Candida yang berada dalam kerongkongan, vagina, lidah, dan juga mulut. 

  1. PCP

PCP atau pneumocystis pneumonia yang diakibatkan oleh infeksi jamur. PCP menjadi infeksi oportunistik paling biasa dan umum terjadi dari penyakit HIV.

Rutin memeriksakan kondisi kesehatan jika anda memiliki faktor risiko terkena HIV. Dengan penanganan yang tepat, maka diharapakan HIV tidak berkembang menjadi semakin berkembang. 

 

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan, Anda bisa video call langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan Aido Health. Download aplikasi Aido Health di App Store dan Google Playstore.

Baca Juga: Hiv Komplikasi: Gejala, Penyebab, dan Mengobati

Ingin penjelasan lebih detail oleh dokter? Pesan konsultasi sekarang!

Doctor

Spesialis Penyakit Dalam

Mulai dari IDR 110.000

Pesan Sekarang
Tag :
Referensi

National Geographic Indonesia

https://wwwn.cdc.gov/hivrisk/what_is/stages_hiv_infection.html

https://www.healthline.com/health/hiv-aids

http://www.ichrc.org/821-obat-antiretroviral

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/symptoms-causes/syc-20373524

https://www.nhs.uk/conditions/hiv-and-aids

http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/BUKU_3_PENGENDALIAN_HIV_COLOR_A5_15x21_cm.pdf

http://www.ias-2005.org/health/hiv/living-a-healthy-lifestyle-with-hiv

https://www.medicalnewstoday.com/articles/17131

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids

Bagikan artikel ini    

Ingin penjelasan lebih detail oleh dokter? Pesan konsultasi sekarang!

Doctor

Spesialis Penyakit Dalam

Mulai dari IDR 110.000

Pesan Sekarang