Mengenal Retinopati Diabetik, Si Pencuri Penglihatan Pasien Diabetes

05 Jun 2020 • Diabetes

Banyak sekali masalah kesehatan lanjutan yang diderita penderita diabetes. Salah satu gangguan yang paling ditakutkan adalah terjadinya kebutaan pada penderita diabetes, yang disebabkan oleh penyakit yang disebut retinopati diabetik. Apa sih, retinopati diabetik itu?

Retinopati diabetik adalah kelainan pada pembuluh darah mata yang disebabkan oleh tingginya gula darah, terutama pada pasien diabetes yang tidak rutin berobat. Penyakit tersebut merupakan penyebab kebutaan utama pada pasien pasien berusia 20-64 tahun.

Beberapa keadaan medis yang menyebabkan seseorang untuk lebih berisiko menderita retinopati diabetik adalah penyakit diabetes itu sendiri, tekanan darah yang tinggi (hipertensi), kadar kolesterol darah yang tinggi, dan penyakit ginjal. Hal lain yang turut meningkatkan risiko adalah penggunaan rokok dan kurangnya aktivitas fisik teratur.

Pada penderita DM terjadi serangkaian pada komponen dinding pembuluh darah. Perubahan ini terjadi pada sebuah lapisan yang berada di dalam mata, yang bernama retina. Retina adalah sebuah lapisan di dalam mata yang tersusun atas serabut saraf, dan pada retina terdapat sebuah titik bernama makula yang berfungsi sebagai tempat jatuhnya cahaya yang masuk ke dalam bola mata.

Adanya gangguan pada makula dapat menyebabkan gangguan pada penglihatan. Salah satu perubahan yang terjadi pada pembuluh darah retina adalah berkurangnya jumlah sebuah sel yang bernama perisit. Hilangnya perisit di retina menyebabkan berbagai perubahan yang memicu bocornya isi pembuluh darah keluar.

Apabila kebocoran isi pembuluh darah terus berlanjut, maka hal ini akan mengganggu retina dan terutama makula sehingga menyebabkan gangguan penglihatan.

Peningkatan gula darah pada penderita DM juga menyebabkan terjadinya penebalan dinding pembuluh darah di retina. Akibatnya, lapisan retina akan kekurangan oksigen. Sebagai respon terhadap kurangnya pasokan oksigen, sebuah protein yang bernama VEGF yang berfungsi untuk memicu pembentukan cabang pembuluh darah baru akan dibentuk.

Dibentuknya VEGF menyebabkan terbentuknya cabang-cabang pembuluh darah yang tipis, sehingga rentang pecah. Pecahnya cabang pembuluh darah baru tersebut akan menyebabkan semakin banyak isi pembuluh darah yang bocor, yang menyebabkan semakin parahnya gangguan penglihatan.

Kebocoran pembuluh darah adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu, dan pada tahapan awal penyakit seringkali kelainan pembuluh belum menyebabkan kebocoran.

Oleh karena itu, pasien DM harus secara berkala memeriksakan penglihatannya karena bisa saja gangguan penglihatan belum muncul karena kebocoran belum ada atau masih sedikit, namun sudah terdapat berbagai perubahan pada pembuluh darahnya.

Pemeriksaan mata secara rutin pada pasien DM membantu menemukan tanda-tanda awal dari retinopati diabetik, sehingga kelainan dapat ditemukan sejak dini dan kebutaan dapat dicegah.

Tidak ada obat yang dapat dikonsumsi untuk mencegah terjadinya kebocoran. Pengobatan utama yang dapat dijalani penderita DM yang memiliki tanda awal retinopati diabetik adalah dengan mengontrol gula darah dan mengobati DM yang diderita.

Dengan mengontrol gula darah, diharapkan kebocoran pembuluh darah dapat dihambat keparahannya. Terapi dengan laser dapat dilakukan pada pasien dengan kasus berat, dengan tujuan menutup kebocoran yang sudah terbentuk dan mencegah pembentukan cabang pembuluh darah baru.

REFERENSI

  1. Andayani G. Retinopati Diabetik. In: Buku Ajar Oftalmologi. 1st ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2017. p. 210–7.
  2. Pandelaki K. Retinopati Diabetik. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2014. p. 2400–6.
  3. Sabanayagam C, Banu R, Chee ML, Lee R, Wang YX, Tan G, et al. Incidence and progression of diabetic retinopathy: a systematic review. Lancet Diabetes Endocrinol. 2019 Feb 1;7(2):140–9.
  4. Ting DSW, Cheung GCM, Wong TY. Diabetic retinopathy: global prevalence, major risk factors, screening practices and public health challenges: a review. Clin Experiment Ophthalmol. 2016;44(4):260–77.