Mengenal Lebih Dekat Metformin

30 Oct 2019 • Diabetes

Ditulis oleh                  : dr. Yonathan Heru Suhalim

Telah direview oleh     : dr. Roy Panusunan Sibarani, Sp.PD-KEMD, FES

 

“Pada saat pertama kali terdiagnosa diabetes tipe 2, dokter meresepkan metformin sebagai obat penurun gula darah dimana pada saat itu, saya belum tahu apa itu metformin, apakah aman diminum, dan apakah membuat berat badan menjadi naik”.

Ilustrasi di atas adalah yang terjadi ketika pasien pertama kali terdiagnosa oleh diabetes tipe 2. Pasien tersebut tentu akan bingung pada awalnya jenis obat apa yang akan dikonsuminya untuk seumur hidupnya sebagai pengendali gula darahnya, dan apakah obat tersebut aman untuk ginjal karena pasien banyak yang beranggapan bahwa jika minum obat terlalu banyak akan merusak fungsi ginjalnya. Oleh karena itu ada baiknya kita lebih mengenal tentang metformin.

Penemuan metformin ini berasal dari tumbuhan yang bernama French Liliac yang merupakan salah satu tanaman tradisional yang berasal dari timur tengah. Sejak tahun 1918, sudah ditemukan manfaatnya untuk menurunkan gula darah namun dihentikan karena risiko toksisitas yang tinggi. Melalui berbagai penelitian akhirnya pada tahun 1957, metformin ini akhirnya dipakai kembali sebagai obat penurun gula darah dan sampai sekarang merupakan obat penurun gula darah lini pertama.

Metformin banyak yang beredar di pasaran dengan merk dagang tertentu dan merupakan obat utama yang digunakan dalam pengendalian gula darah yang berasal dari golongan Biguanid untuk mengobati resistensi insulin yang menjadi penyebab diabetes tipe 2. Dimana metformin ini tidak meningkatkan kelenjar ludah perut kita untuk terus menghasilkan insulin, melainkan kerjanya adalah untuk mengurangi produksi gula oleh liver dan meningkatkan sensitifitas tubuh kita terhadap insulin sehingga kerja insulin untuk memasukan gula ke dalam sel menjadi lebih optimal (memperbaiki resistensi insulin).

Metformin merupakan obat penurun gula darah yang tidak menimbulkan kenaikan pada berat badan pada orang yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu penggunaan metformin ini direkomendasikan terhadap penderita diabetes tipe 2 yang gemuk dan sulit menurunkan berat badannya dengan diet.

 

Berapa dosis penggunaan metformin?

Rentang dosis dari metformin ini adalah 500-2500mg/hari. Sebenarnya dosis untuk memulai penggunaan obat tersebut dimulai dari dosis yang rendah dan bisa ditingkatkan ke dosis yang lebih tinggi. Dosis yang diperlukan oleh pasien juga berbeda-beda antara satu pasien dengan pasien yang lain. Dokter akan menyesuaikan kembali berapa dosis yang dibutuhkan oleh pasien sesuai dengan tingkat perbaikan kontrol gula darah, interaksi dengan obat-obatan lain yang diminum, dan juga efek samping yang mungkin terjadi pada pasien tersebut.

 

Apa saja efek sampingnya?

Diabetes merupakan penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi ke ginjal. Untuk itu penderita diabetes disarankan memeriksa fungsi ginjal sebelum mengkonsumsi obat dan rutin 6 bulan sekali. Metformin ini juga berpengaruh terhadap gangguan ginjal karena pada pasien yang mengalami gangguan ginjal dapat mengalami efek samping yang lebih berat. Untuk efek samping yang sering dialami berupa mual, kembung, diare dan biasa terjadi pada orang yang baru pertama kali mengkonsumsi metformin.

Namun terdapat juga efek samping yang cukup berbahaya dan jarang ditemukan dari penggunaan metformin ini yang bernama asidosis laktat yang terjadi karena timbunan asam laktat yang terlalu banyak di dalam darah. Hal ini bisa terjadi karena adanya gangguan dari ginjal.

Terdapat juga risiko lain yang berkaitan dengan penggunaan metformin yaitu terjadinya kekurangan vitamin B12. Kekurangan vitamin B12 ini mengakibatkan pengguna akan mengalami anemia selain itu fungsi vitamin B12 juga untuk syaraf. Disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter anda untuk menambah suplementasi vitamin B12 pada pengguna metformin.

Apakah ibu hamil dan menyusui bisa mengkonsumsi metformin?

Menurut kategori yang dikeluarkan oleh FDA (Food and Drug Administration) metformin termasuk kedalam kategori B yang artinya adalah tidak ada studi yang memadai untuk wanita hamil.

Namun wanita hamil yang ingin mengkonsumsi obat diwajibkan untuk selalu berkonsultasi kepada dokternya terlebih dahulu untuk menilai keuntungan dan kerugian dari obat tersebut.

 

Referensi:

Bailey C.J.; Diabetologia 2017

PB PERKENI; Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia 2015

Wang, Y., Drug Design, Developmental, and Therapy 2017

Aroda V.R.; Edelstein S.L; The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 2016

Download https://bit.ly/2BENnni dan nikmati cara baru mendapatkan layanan kesehatan profesional di rumahmu.