Mengenal Gangguan Stres Pasca Trauma Lebih Jauh

04 Aug 2020 • Tips Kesehatan

Perasaan takut dan sedih sepanjang dan setelah kejadian traumatis merupakan hal yang wajar melanda seseorang. Ketakutan dapat memicu perubahan pada tubuh dalam sekejap untuk membantu Anda melawan bahaya atau menghindar dari peristiwa tersebut.

Respons yang dikenal sebagai fight-or-flight tersebut adalah reaksi umum yang diperlukan untuk melindungi diri dari bahaya yang dapat menimpa.

Hampir semua orang menunjukkan respons dan emosi yang berbeda-beda setelah trauma, tetapi sebagian besar sembuh dari gejala awalnya secara natural.

Namun, riset menunjukkan bahwa 25% dari orang yang telah mengalami trauma akan tetap mempunyai potensi untuk mengalami gangguan stres pasca trauma (PTSD).

Selain PTSD, trauma memperbesar risiko seseorang mengalami gangguan kejiwaan lainnya, seperti gangguan depresi berat, gangguan panik, dan/atau gangguan cemas menyeluruh.

Gangguan psikosomatik seperti hipertensi, asma bronkial tanpa kelainan organik bermakna juga dapat ditemui.

Bagaimana pola gejala PTSD?

PTSD dapat terjadi sebagai dampak lanjutan dari reaksi stres akut yang berat ataupun trauma berkepanjangan. Faktor utamanya adalah stres berat dan/atau perasaan tidak nyaman yang meliputi seseorang.

Berikut adalah empat pola gejala utama yang dapat ditemui pada PTSD, antara lain:

Gejala yang bersifat mengalami kembali

  • Ingatan-ingatan dalam bentuk kilas balik. Anda seperti hidup kembali dalam trauma tersebut berulang kali, diikuti dengan gejala berupa jantung yang berdebar-debar ataupun berkeringat
  • Mimpi buruk
  • Pikiran-pikiran mengerikan.

Gejala menghindar

  • Menjauh dari tempat, aktivitas, atau melihat barang-barang yang bisa mengingatkan atas trauma
  • Menghindari pikiran dan/atau perasaan yang berkaitan dengan trauma.

Gejala terkait reaktif

  • Mudah marah
  • Memiliki gangguan tidur
  • Memiliki amarah yang tidak bisa dikontrol.

Gejala kognitif dan mood

  • Sulit mengingat kejadian-kejadian penting pada trauma tersebut
  • Punya pikiran negatif terhadap diri sendiri atau takdir
  • Gangguan emosi seperti adanya rasa bersalah atau perilaku menyalahkan
  • Hilangnya kegemaran pada aktivitas yang dulu senang dilakukan.

Anak-anak dapat menunjukkan gejala yang berbeda dengan orang dewasa, seperti:

  • Mengompol meskipun sudah diajari toilet training
  • Melupakan cara berbicara atau tiba-tiba tidak mampu berbicara
  • Menunjukkan ketergantungan luar biasa pada orangtua atau orang dewasa lainnya.

Trauma seperti apa saja yang dapat menyebabkan gangguan ini?

Ada beberapa jenis peristiwa yang memperbesar risiko terkena PTSD, antara lain:

  1. Kekerasan personal, contohnya kekerasan seksual, penyerangan fisik, termasuk perampokan
  2. Penyanderaan
  3. Penculikan
  4. Serangan militer
  5. Serangan teroris
  6. Penyiksaan
  7. Tahanan dalam penjara
  8. Bencana alam, baik alamiah maupun buatan
  9. Kecelakaan mobil berat
  10. Didiagnosis mengidap penyakit berat yang mengancam kelangsungan hidup.

Jika Anda pernah mengalami kejadian traumatis dan merasakan gejala-gejala PTSD, segera kunjungi psikolog klinis atau psikiater untuk diagnosis tepatnya, ya!

Bagaimana cara membantu diri sendiri dalam menghadapi gejala-gejala PTSD?

  • Berbicara dengan dokter terkait opsi terapi yang dapat dilakukan
  • Melakukan olahraga rutin untuk mengurangi stres yang dirasakan
  • Membuat rencana yang realistis untuk masa depan
  • Menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat, baik teman maupun keluarga
  • Menyadari bahwa gejala akan berkurang secara bertahap, gejala tidak mungkin langsung hilang
  • Mencari dan mengidentifikasi tempat, situasi, dan orang yang dapat memberikan rasa nyaman yang dibutuhkan oleh Anda.

Referensi

  1. Post-traumatic stress disorder [Internet]. US: National Institute of Mental Health 2019 May [cited 2020 March]. Available from: nimh.nih.gov/heatlh/topics/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/
  2. Wiguna T. Gangguan stres pasca trauma. In: Elvira SD, Hadisukanto G, editors. Buku ajar psikiatri. 3rd ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI 2018. p.308-17.
  3. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 4th ed. Washington: American Psychiatric Association 2000.