Manfaat Vitamin C bagi Imunitas Tubuh

12 Nov 2020 • Tips Kesehatan

Vitamin C merupakan antioksidan kuat dalam tubuh. Selain itu, vitamin C juga berperan sebagai kofaktor dari enzim-enzim pengatur genetik. Vitamin C merupakan mikronutrien yang mendukung fungsi kekebalan seluler.

Vitamin C meningkatkan fungsi kekebalan lapisan terluar saluran pernapasan terhadap kuman serta mempromosikan aktivitas antioksidan di kulit sehingga mampu melindungi tubuh dari stres oksidatif.

Kekurangan vitamin C menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Infeksi juga diketahui berhubungan dengan kadar vitamin C dalam darah. Aktivitas peradangan akan menyebabkan peningkatan kebutuhan metabolisme tubuh terhadap vitamin C.

Suatu studi literatur berpendapat bahwa kadar vitamin C dalam darah sekitar 100-200 mg/ hari mampu mengoptimalkan respon imun dalam mencegah infeksi. 

Kadar vitamin C dalam darah sejatinya dapat diperoleh dengan asupan sehari-hari berupa makanan ataupun suplementasi.

Lemon adalah salah satu sumber vitamin C. Diketahui dalam 100mg buah lemon terkandung 53 mg asam askorbat. Asam askorbat merupakan salah satu bentuk senyawa vitamin C.

Untuk memenuhi kadar vitamin C dalam darah yang cukup, dibutuhkan lebih dari setengah kilogram lemon per harinya.

Kandungan vitamin C tidak hanya ditemukan dalam lemon, melainkan berbagai buah serta sayur lain juga banyak yang mengandung vitamin C.

Buah-buahan tersebut antara lain jambu biji, nanas, pepaya, stroberi, mangga, dan kiwi.  Adapun sayur-sayuran yang mengandung vitamin C di antaranya adalah kale, brokoli, peterseli, seledri, bayam, kembang kol, sawi, pokchoy, cabai, dan paprika.

Meskipun konsumsi vitamin C tidak menjamin kekebalan terhadap infeksi tertentu, melengjapi kebutuhan asupan mikronutrien tetap direkomendasikan sebagai upaya hidup sehat.

Saat ini studi klinis mengenai  vitamin C yang diberikan dalam bentuk infus langsung ke darah sebagai terapi kasus COVID-19 berat sedang berlangsung di Cina. Studi tersebut dilakukan oleh professor ZhiYong Peng.

Hasil penelitian tersebut hingga kini belum dapat diakses. Studi klinis tersebut diestimasi akan melibatkan lebih dari 100 pasien dan akan rampung pada akhir September tahun ini.

Sumber:

  1. Expert Review of Anti-infective Therapy. 2019.
  2. ClinicalTrials.gov. 2020.