Manakah yang Lebih Sehat, Gula Pasir Alami atau Pemanis Buatan?

02 Feb 2021 • Tips Kesehatan

Gula merupakan salah satu bahan makanan pokok yang tidak bisa ditinggalkan. Di Indonesia sendiri, sebagian besar jajanan hingga makanan berat memerlukan gula. Namun, asupan gula menjadi salah satu masalah karena dapat meningkatkan risiko diabetes melitus.

Pola makan orang Indonesia menyebabkan angka diabetes melitus mencapai 10,8 juta orang se-Indonesia, menjadi peringkat 6 di dunia dengan angka diabetes tertinggi.

Oleh karena itu, muncul alternatif pengganti gula pasir, yaitu pemanis buatan. Namun, apakah memang pemanis buatan lebih sehat dibandingkan gula pasir?

Mengenal jenis-jenis pemanis

Pemanis dapat dibagi menjadi 2 kelompok utama, yaitu alami dan buatan. Gula pasir dan madu merupakan pemanis alami. Pemanis buatan memiliki 2 jenis kembali, yaitu nutritif dan non nutritif.

Pemanis buatan nutritif sifatnya serupa dengan pemanis alami seperti gula, yaitu memberikan kalori pada tubuh, sementara pemanis buatan non nutritif hanya sedikit sekali memberikan kalori. 

Peningkatan berat badan

Sesuai dengan namanya, pemanis nutritif yang meningkatkan kalori tentu dapat meningkatkan berat badan, sementara pemanis buatan non nutritif justru dapat membantu menurunkan berat badan karena tidak menambah kalori pada tubuh.

Pemanis buatan non nutritif tidak memberi kalori yang signifikan pada tubuh karena tidak dicerna dengan cara serupa dengan pemanis nutritif. Oleh karena itu, saat ini pemanis buatan non nutritif ini sering dijadikan alternatif untuk menggantikan gula pasir.

Anjuran asupan gula

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan aturan mengenai asupan gula. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 30 Tahun 2013 tentang Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji, konsumsi gula dianjurkan tidak lebih dari 50 gram atau sekitar 4 sendok makan saja agar tidak meningkatkan risiko diabetes melitus.

Mengganti gula pasir dengan pemanis buatan non nutritif

Pemanis buatan non nutritif terdiri dari berbagai jenis, yang memiliki kalori berbeda. Apabila dibandingkan dengan gula pasir, aspartam, salah satu pemanis buatan non nutritif, 200x lebih manis. Padahal, jumlah kalori yang diberikan tiap gram gula pasir dengan aspartam serupa.

Tentu, penggunaan aspartam akan jauh lebih sedikit untuk mencapai rasa yang sama apabila dibandingkan dengan gula pasir.

Dengan demikian, kalori yang diberikan pun akan jauh lebih kecil. Oleh karena itu, penggunaan gula buatan ini dapat digunakan untuk orang-orang yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi gula lebih dari anjuran asupan agar mengurangi risiko diabetes melitus.

Keamanan pemanis buatan

Manfaat dari rasa manis dan kalori pemanis buatan memang sudah terlihat jelas apabila digunakan sebagai pengganti gula pasir.

Namun, muncul beberapa keraguan mengenai dampak dari pemanis buatan mengingat pemanis buatan tidak dicerna seperti gula pasir dan meninggalkan zat-zat sisa metabolisme.

Hingga saat ini, memang ada pemanis buatan yang ditarik dari pasar karena berbahaya, yaitu siklamat. Pada tahun 1970, siklamat ditarik dari pasar karena dicurigai dapat memicu kanker. Kendati demikian, tidak semua pemanis buatan dapat memicu kanker.

Dunia kesehatan terus melakukan penelitian mengenai dampak dari berbagai pemanis buatan pada kesehatan. Apabila pemanis buatan tersebut terbukti berbahaya, tentu izin edar pemanis buatan tersebut akan ditarik.

Meskipun demikian, efek samping dari pemanis-pemanis buatan yang sekarang beredar belum tentu tidak ada. Beberapa produk pemanis buatan pun memberikan tanda peringatan terkait konsumsinya.

Oleh karena itu, apabila ingin menggunakan pemanis buatan secara rutin, konsultasikan pada dokter untuk menentukan jenis pemanis buatan yang cocok dan aman sesuai kondisi anda.

Pemanis buatan dapat menjadi solusi bagi orang-orang yang berisiko diabetes melitus untuk tetap mengonsumsi makanan manis.

Pemanis buatan non nutritif akan memberikan rasa yang jauh lebih manis dengan kalori lebih kecil dibandingkan gula pasir.

Namun, penggunaan pemanis buatan secara berkepanjangan tetap perlu diawasi karena masih terdapat kemungkinan efek samping yang ditimbulkan.

Referensi:

  1. Tandel KR. Sugar substitutes: health controversy over perceived benefits. J Pharmacol Pharmacother. 2011 Oct-Dec; 2(4): 236–243.
  2. Sharma A, Amarnath S, Thulasimani M, Ramaswamy S. Artificial sweeteners as a sugar substitute: Are they really safe?. Indian J Pharmacol. 2016 May-Jun; 48(3): 237–240.