Ketika Sang Buah Hati Terlahir Tuli

08 Jul 2020 • Tips Kesehatan

Harapan semua orang tua tentunya adalah agar anaknya dapat terlahir dengan keadaan yang sehat dan tidak ada kecacatan. Sayangnya, kenyataan seringkali berlawanan dengan harapan.

Lahirnya sang buah hati dengan gangguan pada fungsi pendengaran menjadi momok yang menakutkan bagi beberapa orang tua ketika harus menerima fakta bahwa sang anak terlahir tuli. Dalam dunia medis, peristiwa tuli yang terjadi sejak kelahiran disebut sebagai tuli kongenital.

Tuli kongenital dapat terjadi ketika adanya gangguan pada perkembangan sistem pendengaran. Di bagian telinga dalam, terdapat sebuah struktur berbentuk seperti rumah siput yang disebut sebagai koklea, yang berfungsi dalam menerima rangsang pendengaran dan meneruskannya ke otak.

Pada janin, koklea berkembang dan matang pada usia kehamilan 20 minggu. Oleh karena itu, adanya kelainan pada kehamilan trimester pertama dapat menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran.

Beberapa penyakit yang apabila terjadi pada trimester pertama dapat menyebabkan gangguan pendengaran terutama adalah sekelompok penyakit infeksi yang disebut sebagai TORCHS, yang meliputi toksoplasmosis, rubela, infeksi sitomegalovirus (CMV), herpes, dan sifilis.

Infeksi sitomegalovirus terutama dikaitkan dengan adanya ketulian yang terjadi pada kedua telinga. Beberapa keadaan pada masa persalnan seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dibawah 2500 gram, dan tidak langsung menangis pada saat baru dilahirkan menjadi penanda adanya peningkatan risiko terhadap ketulian pada anak.

Terdapat beberapa prosedur diagnosis yang dapat dijalani untuk dapat menemukan adanya ketulian pada anak, meliputi OAE, BERA, dan timpanometri. Prosedur-prosedur diagnostik ini umumnya dapat dilakukan sebagai bagian dari proses skrining untuk menemui adanya kelainan pendengaran pada saat masih bayi.

Program skrining ini baiknya dilakukan pada anak yang berisiko tinggi untuk mengalami gangguan pendengaran, namun pada beberapa fasilitas kesehatan pemeriksaan ini dilakukan pada semua bayi yang baru lahir untuk menghindari adanya bayi yang terlewat.

Sebuah pedoman yang dirilis oleh Joint Committee on Infant Hearing mendaftarkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan pada pendengaran bayi yang dapat dibedakan berdasarkan usia bayi.

Beberapa faktor tersebut meliputi adanya riwayat ketulian pada keluarga, ada riwayat infeksi pada masa kehamilan, riwayat kelainan pada wajah dan daun telinga, adanya kecurigaan orang tua terhadap adanya gangguan pendengaran, dan riwayat infeksi pada telinga yang terjadi berulang kali atau menetap minimal 3 bulan.

Pengobatan yang dapat dijalani oleh anak meliputi pemasangan alat bantu dengar, operasi, dan prosedur rehabilitasi termasuk terapi bicara.

Lahirnya buah hati dengan ketulian bukan berarti tidak ada harapan lagi. Dengan informasi diatas, hendaknya orang tua segera memeriksakan dan membantu anak dalam menjalani pengobatan yang diperlukan sehingga hendaya pendengaran pada anak dapat ditatalaksana oleh dokter.

REFERENSI

  1. Suwento R, Zizlavsky S, Hendarmin H. Gangguan Pendengaran Pada Bayi dan Anak. In: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 7th ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2012. p. 30–5. 
  2. Gürtler N, Gysin C, Schmid N, Pieren C, Vischer M, Schumacher S, et al. Bilateral congenital deafness: What investigations should be performed? Swiss Med Wkly. 2017 Mar 21;147:w14416. 
  3. Liu CC, Livingstone D, Yunker WK. The role of bone conduction hearing aids in congenital unilateral hearing loss: A systematic review. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2017 Mar 1;94:45–51.