Dapatkah Stroke Menyebabkan Ketulian ?

23 Apr 2020 • Stroke

Telinga merupakan salah satu panca indera pada tubuh manusia, dan berfungsi dalam pendengaran. Pada keadaan sehat, telinga dapat meneruskan bunyi yang masuk ke dalam telinga untuk diproses dan diteruskan ke otak untuk kemudian diterjemahkan menjadi bunyi yang didengarkan sehari-hari.

Ketulian merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan berkurangnya fungsi pendengaran pada telinga dibandingkan dengan telinga normal.

Seseorang sudah dapat dikatakan tuli apabila ambang dengarnya berada diatas 25 dB (desibel) yang dinilai melalui pemeriksaan pendengaran yang disebut audiometri.

Berdasarkan hasil temuan ambang dengarnya, ketulian dapat dibedakan lebih jauh menjadi tuli ringan, tuli sedang, tuli berat, dan tuli sangat berat.

Selain itu, ketulian juga dapat dibedakan menjadi tuli konduktif dan tuli sensorineural berdasarkan bagian mana dari telinga yang mengalami gangguan.

Kata ‘stroke’ tentunya sudah tidak asing lagi di telinga. Stroke merupakan gangguan pada pembuluh darah otak dan merupakan penyebab kematian nomor dua tertinggi di dunia.

Secara medis, gangguan pembuluh darah otak pada stroke menyebabkan kematian jaringan otak karena berkurangnya asupan oksigen jaringan otak.

Jaringan otak yang mati tidak bisa dihidupkan kembali. Bergantung dari bagian otak yang terganggu dan pembuluh darah bagian mana yang mengalami gangguan, seseorang dapat mengalami kecacatan yang berbeda-beda setelah terjadinya episode stroke.

Apabila stroke terjadi pada bagian otak yang berfungsi dalam memproses sinyal pendengaran dari saraf telinga, maka stroke dapat memicu terjadinya hilangnya pendengaran secara mendadak.

Selain berfungsi pada pendengaran, saraf pada telinga juga berfungsi dalam menghantarkan sinyal yang mengatur proses keseimbangan tubuh ke otak.

Oleh karena itu, hilangnya pendengaran karena stroke biasanya akan disertai oleh gangguan keseimbangan berupa rasa pusing berputar yang dikenal pula dengan istilah vertigo.

Hilangnya fungsi pendengaran mendadak yang disertai gangguan keseimbangan karena stroke disebut sebagai kehilangan audiovestibular akut (acute audiovestibular loss).

Karena stroke merupakan penyakit yang lebih banyak menyerang orang pada usia dewasa atau tua, umumnya keluhan gangguan pendengaran mendadak ini ditemukan pada orang dewasa atau lansia.

Lalu, ketulian karena stroke terjadi secara mendadak dan bukan perlahan-lahan memberat. Hal ini dapat menjadi pembeda antara ketulian karena stroke dan ketulian karena penuaan usia.

REFERENSI

  1. Deafness and hearing loss [Internet]. [cited 2020 Apr 3]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/deafness-and-hearing-loss
  2. WHO | Stroke: a global response is needed [Internet]. WHO. World Health Organization; [cited 2020 Apr 3]. Available from: http://www.who.int/bulletin/volumes/94/9/16-181636/en/
  3. Kim H-A, Lee H. Recent Advances in Understanding Audiovestibular Loss of a Vascular Cause. J Stroke. 2017 Jan;19(1):61–6.
  4. Venketasubramanian N, Yoon BW, Pandian J, Navarro JC. Stroke Epidemiology in South, East, and South-East Asia: A Review. J Stroke. 2017 Sep;19(3):286–94.
  5. Hendarmin H, Bashiruddin J, Alviandi W. Gangguan Pendengaran (Tuli). In: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 7th ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2012.