Benarkah Patah Hati Bisa Menyebabkan Kematian?

02 Feb 2021 • Tips Kesehatan

Apakah Anda pernah merasakan luka yang mendalam seperti ditinggal pergi oleh anggota keluarga atau kekasih?

Perasaan luka emosional tersebut ternyata dapat menyebabkan serangan jantung yang dapat berujung kepada kematian. Kondisi ini dikenal sebagai sindrom patah hati atau broken heart syndrome.

Pada dunia medis, broken heart syndrome pertama kali berhasil dijelaskan oleh dokter dari Jepang, sehingga diberikan nama takotsubo cardiomyopathy.

Dalam bahasa Jepang, takotsubo adalah perangkap gurita yang bentuknya menyerupai kondisi jantung yang sedang patah hati. Ternyata, kondisi patah hati dapat benar-benar menyebabkan hati ‘patah’. 

Penyebab Broken Heart Syndrome

Broken heart syndrome merupakan penyakit otot jantung yang menyerupai serangan jantung. Penyebabnya adalah stres emosional yang hebat, seperti kematian anggota keluarga, perceraian dengan pasangan, kehilangan pekerjaan, rasa kaget yang hebat, dan lain-lain.

Akibat dari stres emosional, terjadi peningkatan kadar hormon adrenalin yang dipercaya menyebabkan perubahan bentuk otot jantung menjadi menyerupai perangkap gurita Jepang (takotsubo).

Oleh sebab itu, otot jantung yang ‘patah’ gagal memompa darah ke seluruh tubuh dan dapat berujung dengan kematian. 

Meskipun penyebab perubahan bentuk otot jantung belum dimengerti secara sepenuhnya, terdapat beberapa faktor risiko yang diketahui meningkatkan kemungkinan terjadinya broken heart syndrome, yaitu:

Jenis kelamin: Wanita lebih sering mengalami broken heart syndrome dibandingkan dengan pria.

Usia: Sebagian besar kasus broken heart syndrome dialami oleh pasien berusia di atas 50 tahun.

Riwayat penyakit neurologis dan psikiatris: Pasien dengan penyakit kejang atau depresi dan penyakit psikiatris lainnya beresiko lebih tinggi untuk mengalami broken heart syndrome

Gejala dan tanda Broken Heart Syndrome

Gejala dan tanda yang dialami oleh pasien broken heart syndrome menyerupai pasien serangan jantung. Ciri khas yang membedakan adalah gejala muncul setelah mengalami stres emosional yang hebat, sedangkan serangan jantung mungkin datang secara tiba-tiba. Gejala yang mungkin timbul meliputi: nyeri dada hebat, sesak napas, dan kehilangan kesadaran. 

Jika Anda atau kerabat Anda mengalami gejala tersebut, segera mencari pertolongan medis di rumah sakit terdekat. Dokter akan berusaha menangani gejala tersebut seperti serangan jantung terlebih dahulu karena dapat mengancam nyawa.

Namun, setelah melalui pemeriksaan lebih lanjut, dokter akan menyadari bahwa kondisi broken heart syndrome ini berbeda dengan serangan jantung.

Pada serangan jantung, terdapat pembuluh darah jantung yang mengalami penyempitan, sehingga menghentikan pasokan darah dan oksigen ke jantung. Pada kondisi broken heart syndrome, pembuluh darah jantung tidak mengalami penyempitan.

Dokter dapat melanjutkan pemeriksaan dengan alat yang dapat melihat bentuk jantung pasien. Setelah melihat perubahan otot jantung yang terjadi, dokter dapat mendiagnosis pasien dengan broken heart syndrome.

Diperkuat dengan adanya riwayat patah hati atau stres emosional hebat sebelum munculnya gejala, diagnosis broken heart syndrome menjadi semakin tegak.

Pengobatan dan pencegahan Broken Heart Syndrome

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk broken heart syndrome. Akibat gejala dan tanda yang menyerupai serangan jantung, dokter akan memulai pengobatan seperti serangan jantung.

Namun, setelah diketahui penyebab dari gejala adalah bukan dari penyempitan pembuluh darah, pengobatan lebih lanjut tidak diperlukan karena kondisi akan membaik dengan sendirinya. 

Anda atau kerabat Anda dengan broken heart syndrome mungkin memerlukan perawat selama beberapa minggu di rumah sakit. Tujuannya adalah agar dokter dapat memonitor kondisi dari otot jantung.

Dalam waktu 1-2 minggu, otot jantung akan berubah menjadi normal kembali dan fungsi pompa jantung akan membaik. Dalam waktu 2 bulan, kondisi kesehatan Anda akan kembali seperti semula dan dapat menjalankan aktivitas kembali.

Meskipun kasus kematian akibat broken heart syndrome jarang ditemukan, 1 dari 5 pasien mengalami kondisi gagal jantung setelahnya.

Oleh sebab itu, untuk mencegah broken heart syndrome, Anda perlu menghindari kondisi patah hati. Pengelolaan stres yang baik juga dapat membantu mencegah terjadinya patah hati dan broken heart syndrome.

Referensi:

  1. Broken heart syndrome [Internet]. Mayo Clinic; 2020 May 29 [cited on 2021 Jan 22]. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/broken-heart-syndrome/symptoms-causes/syc-20354617 
  2. Takotsubo cardiomyopathy (broken-heart syndrome) [Internet]. Harvard Health Publishing; 2020 Jan 29 [cited on 2021 Jan 22]. Available from: https://www.health.harvard.edu/heart-health/takotsubo-cardiomyopathy-broken-heart-syndrome 
  3. Broken heart syndrome [Internet]. Cleveland Clinic; 2018 Jun 15 [cited on 2021 Jan 22]. Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17857-broken-heart-syndrome