Baik Buruk Diet Vegetarian Pada Diabetes

16 Oct 2019 • Diabetes

Ditulis oleh: dr. Rianty Lais Manna
Telah di review oleh: dr. Roy Panusunan Sibarani, Sp.PD-KEMD, FES


Vegetarian dapat menjadi suatu gaya hidup ataupun suatu jalan hidup. Ada beragam alasan seseorang menjadi vegetarian, baik secara moral yang dikaitkan dengan kekejaman dan kerusakan lingkungan, alasan religius seperti pada agama hindu dan budha atau akibat faktor ekonomi dimana mengkonsumsi sayur lebih murah dibandingkan daging.

Secara umum terdapat beberapa jenis diet vegetarian yang dibedakan berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi. Vegan atau vegetarian murni tidak mengkonsumsi daging atau produk hewani sama sekali. Lacto-ovovegetarian tidak mengkonsumsi daging hewan namun masih mengkonsumsi susu, produk olahan susu dan telur. Pesco-vegetarian mengkonsumsi ikan, susu, produk susu dan telur. Semi-vegetarian mengkonsumsi daging dalam jumlah sedikit

Manfaat diet vegetarian

Diet vegetarian kaya akan konsumsi serat, buah, sayur dan kacang-kacangan. Konsumsi serat dapat mengikat glukosa dan menurunkan kecepatan penyerapan gula ke dalam darah. Diet vegetarian mengganti konsumsi daging dengan jenis protein lainnya seperti kacang kedelai. Makanan ini tinggi akan protein, kalsium dan fosfat yang membantu mengontrol kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Bagaimana manfaat diet vegetarian pada diabetes?

Berbagai studi penelitian telah dilakukan mengenai manfaat diet vegetarian terhadap pencegahan diabetes, sebagai diet dalam pengobatan diabetes ataupun pencegahan komplikasi diabetes.

Studi tersebut menemukan bahwa resiko terjadinya penyakit diabetes yang diteliti dalam suatu kurun waktu tertentu dapat diurutkan berdasarkan jenis diet vegetarian yaitu, diet vegetarian murni (2,9%), lacto-ovo-vegetarian (3,2%), pesco-vegetarian (4,8%), semi-vegetarian (6,1%), and non-vegetarian (7,6%). Hal ini menunjukkan bahwa diet vegetarian murni memiliki resiko yang paling rendah dibandingkan dengan diet non vegetarian.

Penderita diabetes rentan mengalami komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 2-4x. Suatu studi menunjukkan bahwa penderita yang melakukan diet vegetarian dapat menurunkan resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, menurunkan tekanan darah, kadar kolestrol dan kadar gula dalam darah bila dibandingkan dengan penderita yang tidak vegetarian.

Studi lainnya juga menunjukkan bahwa pada penderita dengan gangguan ginjal mengalami perbaikan pada fungsi ginjal, perbaikan jumlah protein dalam urin dan kadar gula dalam darah setelah 1 tahun melakukan diet vegetarian.

Jangan menjadi vegetarian yang tidak sehat

Diet vegetarian menghindari konsumsi daging. Namun masih ada banyak variasi makanan yang dapat dikonsumsi dengan hanya menghindari daging.

Penelitian pada suatu komunitas vegetarian di Indonesia menyebutkan bahwa ditemukan kadar gula dan kolestrol darah yang masih dalam batas normal. Namun terdapat juga penelitian di Indonesia yang menunjukkan bahwa kadar gula dan kolestrol darah yang tinggi pada suatu kelompok tertentu. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyak mengonsumsi sumber karbohidrat seperti nasi, roti, gula pasir dengan cara pengolahan yang digoreng atau diberi gula.

Konsumsi makanan olahan seperti kripik, kue manis dan makanan manis lainnya tentu membuat diet vegetarian menjadi tidak sehat. Hal ini tentunya membatalkan semua hasil penelitian diatas yang menyimpulkan bahwa diet vegetarian baik untuk kesehatan.

Nasi merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Banyaknya konsumsi sayur dan buah pada diet vegetarian diharapkan mampu mengurangi konsumsi kalori dan mengurangi obesitas. Namun, konsumsi makanan yang berlebih tentunya dapat meningkatkan berat badan.

Diet vegetarian tentunya baik bila dilakukan dengan benar dan sesuai. Tapi, jangan sembarangan menjalankan diet vegetarian, ya. Karena diet vegetarian yang tidak sehat malah dapat meningkatkan resiko terjadinya diabetes.

 

Referensi:

Olfert. M. D., Wattick. R.A., Current Diabetes Reports, 2018

Siahaan. G., Nainggolan. E., Lestrina. D., Indonesian Journal of Human Nutrition, 2015