Apakah stres bisa menular?

07 Sep 2020 • Tips Kesehatan

Ketika Anda melihat seseorang menguap, terdapat kemungkinan besar Anda akan ikut menguap. Peristiwa ini disebut sebagai penularan menguap atau keinginan untuk menguap yang timbul ketika seseorang memikirkan, mendengarkan, atau melihat seseorang menguap.

Selain menguap, peneliti juga membuktikan bahwa terdapat peristiwa lain yang dapat menular hanya melalui pengamatan seseorang terhadap peristiwa tersebut, yaitu stres.

Berada di sekitar orang yang sedang mengalami stres dapat membuat seseorang mengalami stres, dan kondisi ini dapat diamati dan diukur secara fisik.

Bahkan, kita tidak perlu mengenal orang yang sedang mengalami stres untuk menerima penularan stres darinya. Siapa pun orang yang sedang stres, baik orang terdekat atau orang asing, berada di sekitar mereka dapat membuat kita ikut merasakan stres.

Peristiwa penularan stres ini dapat terjadi karena kemampuan manusia untuk berempati. Kemampuan manusia berbagi emosi satu sama lain menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Emosi dapat dengan mudah diamati melalui ekspresi wajah, postur, dan perubahan intonasi suara. 

Manusia cenderung menunjukkan resonansi terhadap respon stres orang lain terhadap peristiwa tertentu. Pada sebuah penelitian di tahun 2014, beberapa orang diberikan stimulus stres berupa soal matematika yang menantang.

Selanjutnya, terdapat pengamat yang menonton peristiwa tersebut melalui video atau pun secara langsung. Hampir seluruh peserta yang menerima soal matematika menunjukkan respon stres karena diberikan stimulus stres secara langsung.

Di samping itu, sebanyak 26% pengamat juga mengalami peningkatan hormon kortisol sebagai hasil dari empati terhadap stres yang dialami kelompok pertama.

Pengaruh stres ditemukan lebih tinggi apabila orang yang mengalami stres adalah seseorang yang disayangi, tapi juga ditemukan apabila orang yang mengalami stres adalah orang asing.

Stres memiliki efek menular yang cukup tinggi. Berada di sekitar orang yang stres dapat memicu empati dalam diri manusia, membuat seseorang ikut merasakan stres yang dirasakan orang lain.

Hal ini berguna agar kita dapat memahami kondisi orang lain dengan lebih baik dan membantunya melalui stres yang ia hadapi. Di sisi lain, menyaksikan secara tidak langsung seseorang yang sedang mengalami stres melalui berbagai media juga dapat memicu respon stres.

Maka dari itu, ada baiknya kita mulai berhati-hati terhadap konten yang kita tonton untuk menjaga kondisi psikologis diri sendiri.

Referensi:

  1. Kapitany R, Nielsen M. Are yawns really contagious? a critique and quantification of yawn contagion. Adapt Hum Behav Physiol [Internet]. 2017 Feb [cited 2020 Jul 26];3:134-55.
  2. Chan MHM, Tseng CH. Yawning detection sensitivity and yawning contagion. [published correction appears in Iperception. 2018 Feb 12;9(1):2041669518760868]. Iperception. 2017 [cited 2020 Jul 26];8(4):2041669517726797. Published 2017 Aug 25.
  3. Engert V, Plessow F, Miller R, Kirschbaum C, Singer T. Cortisol increase in empathic stress is modulated by social closeness and observation modality. Psychoneuroendocrinology [Internet]. 2014 Apr 17 [cited 2020 Jul 26]. Available from: https://www.eurekalert.org/pub_releases/2014-04/m-ysi043014.php
  4. Engert V, Linz R, Grant JA. Embodied stress: The physiological resonance of psychosocial stress. Psychoneuroendocrinology [Internet]. 2019 Jul [cited 2020 Jul 26];105:138-46.
  5. Dimitroff SJ, Kardan O, Necka EA, et al. Physiological dynamics of stress contagion. Sci Rep [Internet]. 2017 Jul [cited 2020 Jul 26];7:6168.