Apa Itu Diabetes Kering dan Basah?

08 May 2020 • Diabetes

Diabetes merupakan penyakit yang sering ditemukan di Indonesia. Penyakit ini ditandai dengan level gula darah yang lebih tinggi dari 200 mg per dL. Pada tahun 2018, perkiraan 2% dari seluruh penduduk Indonesia terdeteksi mengidap penyakit tersebut.

Sering kita dengar sebutan diabetes kering dan basah. Diabetes kering adalah sebutan untuk diabetes dengan bekas luka berwarna hitam pada kulit tanpa disertai adanya luka terbuka.

Sedangkan diabetes basah merupakan jenis diabetes yang memiliki bekas luka terbuka disertai nanah yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Namun, tahukah Anda bahwa dalam dunia medis, tidak ada sebutan untuk diabetes kering dan basah?

Baik diabetes kering maupun basah, keduanya merupakan tanda-tanda dari jenis diabetes yang sama, yakni diabetes tipe 2 atau diabetes mellitus.

Tingginya kadar glukosa dalam darah menyebabkan terganggunya sistem perbaikan pembuluh darah pasien dengan diabetes, pembuluh darah yang terluka dapat rusak dan gagal melakukan perbaikan.

Sehingga, fungsi pembuluh darah untuk menyalurkan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Hal ini banyak terjadi pada pembuluh darah kecil (mikrovaskular). Jaringan yang mengalami kekurangan asupan akan mengalami kematian sel dan jaringan.

Apabila terjadi pada jaringan yang dekat dengan kulit, maka akan terlihat seperti luka yang menghitam. Inilah yang disebut oleh masyarakat umum dengan sebutan diabetes kering.

Kerusakan dari pembuluh darah tersebut juga dapat menyebabkan tidak teraturnya molekul yang dapat masuk dan keluar dari pembuluh darah tersebut. Pada luka terbuka, luka pun akan lama pulih dan muncul nanah. Hal inilah yang terjadi pada diabetes basah.

Baik pada diabetes kering maupun basah, berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan terkait lambatnya sistem pemulihan pembuluh darah:

Asupan nutrisi yang kurang memadai

Pembuluh darah yang gagal mengalirkan nutrisi ke seluruh tubuh pasien dapat menyebabkan pasien akan mengalami kekurangan oksigen dan mineral-mineral lainnya. Kondisi ini juga disebut sebagai keadaan hipoksia.

Rawan terkena penyakit

Sel darah putih yang berfungsi untuk memakan sisa debris dari inflamasi mengalami kelainan. Sistem imun tubuh pasien diabetes tidak dapat bekerja secara maksimal. Karena itu, penderita diabetes akan menjadi rawan terkena penyakit infeksi.

Gangguan pada sistem saraf

Diabetes juga dapat mengganggu fungsi sistem saraf. Sehingga pasien akan mengalami gangguan dari berbagai jenis fungsi saraf otonom, seperti salah satunya menyebabkan gangguan pada sistem pembuluh darah.

Pasien dengan gangguan gula darah harus rutin melakukan pemeriksaan ke dokter. Dengan terkendalinya gula darah dan berbagai komplikasinya, pasien dapat hidup dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Referensi:

  • Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Utama Riskesdas 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2018.
  • Pippitt K, Li M, Gurgle HE. Diabetes mellitus: screening and diagnosis. Am Fam Physician. 2016 Jan 15; 93(2):103-9.
  • Okonkwo UA, DiPietro LA. Diabetes and wound angiogenesis. Int J Mol Sci. 2017 Jul; 18(7):1419.
  • Freeman R. Diabeteic autonomic neuropathy. Handb Clin Neurol. 2014; 126:63-79.