Tabir surya dan kekurangan vitamin D: apakah berhubungan?

08 Oct 2020 • Tips Kesehatan

Vitamin D adalah mikronutrien yang memiliki peran penting dalam menjaga metabolisme tulang, mempromosikan pertumbuhan sel, mengatur imunitas tubuh, dan mengurangi inflamasi atau peradangan.

Namun, hampir satu miliar orang di seluruh dunia mengalami defisiensi vitamin D, yaitu kondisi di mana konsentrasi vitamin D dalam darah kurang dari 20ng/mL. Defisiensi vitamin D dapat disebabkan oleh penyakit kronis atau kurangnya paparan sinar matahari.

Vitamin D dihasilkan oleh tubuh secara alami ketika kulit menerima pajanan UVB dari sinar matahari. Selain itu, vitamin D juga dapat diperoleh dari sumber makanan seperti ikan, minyak hati ikan kod, kuning telur, jamur, hati sapi, dan makanan fortifikasi yang diperkaya dengan vitamin D.

Tingginya kejadian defisiensi vitamin D salah satunya disebabkan oleh semakin berkurangnya waktu yang dihabiskan orang-orang untuk berada di luar ruangan. Ditambah lagi, sebagian besar orang menggunakan tabir surya saat pergi keluar.

Tabir surya berfungsi sebagai pelindung kulit dari bahaya sinar matahari seperti sunburn, penuaan, dan kanker kulit. Namun, tabir surya juga dikhawatirkan menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami defisiensi vitamin D, karena fungsinya yang dapat menapis sinar UVB.

Defisiensi vitamin D dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami lemah otot, nyeri tulang, dan fraktur akibat kerapuhan tulang.

Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa risiko yang ditimbulkan oleh kanker kulit lebih besar daripada risiko yang ditimbulkan oleh defisiensi vitamin D.

Selama sepuluh tahun terakhir, kejadian kanker kulit terus mengalami kenaikan. Kanker kulit merupakan jenis kanker yang paling sering ditemui. Satu dari tiga kejadian kanker adalah kanker kulit.

Salah satu cara paling mudah untuk mencegah kanker kulit adalah dengan menggunakan tabir surya ketika berada di luar ruangan.

Penggunaan tabir surya tidak menghentikan produksi vitamin D di kulit secara keseluruhan. Faktanya, hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan tabir surya dalam kehidupan sehari-hari dapat mengurangi konsentrasi vitamin D.

Kadar vitamin D yang sehat dapat dicapai dengan paparan sinar matahari di siang hari sebanyak satu jam sambil menggunakan tabir surya dengan SPF 15 setiap harinya.

Sementara tanpa tabir surya, paparan sinar matahari selama sekitar sepuluh menit sudah cukup. Selain itu, penting untuk diingat bahwa vitamin D juga dapat diperoleh melalui makanan.

Referensi:

  1. Neale R, Khan S, Lucas R, et al. The effect of sunscreen on vitamin D: a review. Br J Dermatol [Internet]. 2019 [cited 2020 Jul 19];181:907-15.
  2. Perugini P, Bonetti M, Cozzi AC, et al. Topical sunscreen application preventing skin cancer: systematic review. Cosmetics [Internet]. 2019 [cited 2020 Jul 19];6:42.
  3. Pfotenhauer KM, Shubrook JH. Vitamin D deficiency, its role in health and disease, and current supplementation recommendations. J Am Osteopath Assoc [Internet]. 2017 [cited 2020 Jul 19];117(5):301-5.
  4. Ultraviolet (UV) radiation and skin cancer [Internet]. Geneva: World Health Organization (WHO); 2017 Oct  16 [cited 2020 Jul 19]. Available from: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/ultraviolet-(uv)-radiation-and-skin-cancer