Skin-to-skin contact untuk Bayi

23 Jul 2020 • Tips Kesehatan

Apa fungsinya?

Apakah Anda sedang mengandung dan akan bersalin dalam waktu dekat? Kalau begitu, selamat! Kehadiran buah hati tentu saja menjadi sebuah momen yang spesial bagi orangtua baru.

Salah satu hal yang harus dipahami ketika baru saja memiliki buah hati adalah program skin-to-skin contact, atau yang juga sering disebut kangaroo care. Apakah fungsinya untuk buah hati Anda?

Skin-to-skin contact merujuk pada praktik dimana bayi yang baru saja lahir akan dikeringkan dan dibaringkan pada dada ibu secara langsung. Sesuai namanya, maka kulit ibu dan kulit bayi akan bersentuhan secara langsung.

Ibu dan bayi yang bersentuhan secara langsung akan diberikan seliut hangat dan praktik ini berlangsung selama satu jam atau hingga pemberian ASI pertama kalinya.

Prosedur ini awalnya ditemukan secara tidak sengaja, ketika sebuah fasilitas kesehatan kekurangan inkubator untuk menghangatkan bayi. Ternyata, praktik ini memiliki banyak sekali manfaat.

Prosedur ini mendatangkan banyak keuntungan bagi ibu dan bayi. Selain dapat membantu menenangkan ibu dan bayi, skin-to-skin contact juga dapat mengatur:

  1. Detak jantung dan pernapasan bayi sehingga memudahkan beradaptasi dengan dunia luar
  2. Merangsang pencernaan bayi, mengatur suhu tubuh bayi
  3. Membantu kolonisasi bakteri baik dari ibu ke kulit bayi yang dapat mencegah infeksi, dan
  4. Merangsang hormon-hormon yang membantu ibu untuk menyusui.

Selain itu, bayi akan mengalami peningkatan saturasi oksigen, penurunan kadar kortisol, peningkatan kegiatan menyusui, dan masih banyak lagi.

Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi. Bagi ibu, harus diperhatikan tanda vital dan tingkat kesadaran selama kontak. Ibu yang baru melahirkan pasti merasa sangat lelah, sehingga dibutuhkan pengawasan untuk melihat posisi bayi.

Kontak dapat dilakukan setelah pemberian obat untuk menghilangkan rasa sakit saat penjahitan perineum setelah melahirkan, namun bila obat tersebut dapat menyebabkan rasa kantuk, maka skin-to-skin dapat ditunda terlebih dahulu.

Untuk bayi, harus dipastikan bahwa posisinya strategis dan tidak menghalangi jalur napas bayi. Petugas kesehatan harus mengawasi pernapasan dan pergerakan dada bayi, serta suara napas bayi.

Warna bayi juga harus diperhatikan, apabila membiru, berarti bayi kekurangan oksigen. Bayi harus memiliki tonus atau kesiagaan, tidak boleh lemas. Selain itu, bayi harus tetap hangat selama kontak.

Referensi:

  1. UNICEF UK. Skin-to-skin contact [Internet]. London: UNICEF UK; dates unknown [cited 2020 May 23]. Available from: https://www.unicef.org.uk/babyfriendly/baby-friendly-resources/implementing-standards-resources/skin-to-skin-contact/
  2. Mekonnen AG, Yehualashet SS, Bayleyegn AD. The effects of kangaroo mother care on the time to breastfeeding initiation among preterm and LBW infants: a meta-analysis of published studies. Int Breastfeed J. 2019;14:12. https://doi.org/10.1186/s13006-019-0206-0
  3. Brimdyr K, Cadwell K, Stevens J, Takahashi Y. An implementation algorithm to improve skin-to-skin practice in the first hour after birth. Matern Child Nutr. 2017 Dec 12;14(2). https://doi.org/10.1111/mcn.12571