Sarkopenia, Si Pencuri Massa Otot di Usia Tua

08 Jun 2020 • Tips Kesehatan

Proses penuaan bertanggung jawab terhadap perubahan komposisi tubuh yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Salah satu perubahan komposisi tubuh yang terjadi adalah hilangnya massa otot, yang sudah mulai terjadi sejak usia 25 tahun.

Ditemukan bahwa massa otot akan berkurang sekitar 40% dari usia 25 tahun sampai usia 80 tahun. Sarkopenia merupakan istilah yang dirumuskan untuk membahas berkurangnya massa otot yang disertai dengan penurunan fungsi otot seiring dengan proses penuaan.

Sarkopenia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling penting karena dikaitkan dengan berbagai disabilitas pada usia lanjut.

Salah satu miskonsepsi tentang sarkopenia adalah penting untuk diketahui bahwa walaupun massa otot berkurang, bukan berarti serta-merta kekuatan otot juga berkurang. Hal ini karena massa otot hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi kekuatan otot, dan masih terdapat faktor lainnya seperti berkurangnya persarafan ke otot.

Sarkopenia merupakan sebuah kelainan yang kejadiannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berkurangnya asupan makanan seiring dengan peningkatan usia, terutama penurunan asupan protein dan vitamin D, dikaitkan dengan adanya penurunan kekuatan otot.

Berkurangnya kadar hormon seks pria yang disebut testosteron seiring dengan peningkatan usia dimulai dari usia 30 tahun ditemukan dapat mempengaruhi massa otot.

Hormon lain yang turut berkurang kadarnya seiring dengan peningkatan usia dan juga dapat mempengaruhi massa otot meliputi massa otot meliputi hormon pertumbuhan atau disebut juga GH. Faktor genetik juga diperkirakan memainkan peran dalam kejadian sarkopenia.

Hal utama yang dapat dilakukan untuk mencegah sekaligus menghambat kejadian sarkopenia adalah dengan melakukan olahraga dan aktivitas secara rutin. Olahragadan aktivitas fisik yang dilakukan dapat dikombinasikan dengan asuppan nutrisi tinggi protein.

Konsumsi suplemen yang mengandung kreatin ditemukan turut membantu dalam mencegah kejadian sarkopenia, terutama apabila dikombinasikan dengan olahraga yang menggunnakan beban. Belum ditemukan obat-obatan yang dapat dikonsukmsi yang berperan dalam pengobatan sarkopenia.

Berdasarkan bukti yang sudah ada, ditemukan bahwa olahraga dan aktivitas fisik merupakan motede yang paling efektif. Hendaknya, olahraga yang dilakukan menggabungkan olahraga beban, aerobik, dan latihan keseimbangan.

Oleh karena itu, pola hidup yang aktif seharusnya diterapkan pada kehidupan sehari-hari guna memerangi sarkopenia yang dapat terjadi sejak muda ini. Dikombinasikan dengan pola makan yang sesuai sebagai bagian dari pola hidup sehat, hendaknya fungsi otot dapat tetap dijaga sampai kepada usia tua.

REFERENSI

  1. Beaudart C, Dawson A, Shaw SC, Harvey NC, Kanis JA, Binkley N, et al. Nutrition and physical activity in the prevention and treatment of sarcopenia: systematic review. Osteoporos Int. 2017 Jun 1;28(6):1817–33.
  2. Beaudart C, Zaaria M, Pasleau F, Reginster J-Y, Bruyère O. Health Outcomes of Sarcopenia: A Systematic Review and Meta-Analysis. Wright JM, editor. PLOS ONE. 2017 Jan 17;12(1):e0169548.
  3. Marty E, Liu Y, Samuel A, Or O, Lane J. A review of sarcopenia: Enhancing awareness of an increasingly prevalent disease. Bone. 2017 Dec 1;105:276–86.
  4. Moore SA, Hrisos N, Errington L, Rochester L, Rodgers H, Witham M, et al. Exercise as a treatment for sarcopenia: an umbrella review of systematic review evidence. Physiotherapy. 2020 Jun 1;107:189–201.
  5. Yoshimura Y, Wakabayashi H, Yamada M, Kim H, Harada A, Arai H. Interventions for Treating Sarcopenia: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Studies. J Am Med Dir Assoc. 2017 Jun 1;18(6):553.e1-553.e16.