Pada dasarnya, manusia memerlukan kemampuan untuk membedakan dirinya sendiri dengan orang lain di sekitarnya. Melalui kecerdasan atau inteligensi, seseorang memiliki kemampuan untuk berpikir secara rasional, belajar secara efektif, dapat memahami suatu ide yang kompleks, serta mampu beradaptasi terhadap lingkungan.
Dengan kecerdasan juga seseorang dapat menempatkan dirinya secara unik dalam pergaulan. Hal ini dapat menjadi penilaian pula terhadap kemanjuran fungsi mental manusia yang mendasari perilakunya. Oleh karena itu, kecerdasan dapat dilihat sebagai kemampuan secara umum dalam aspek kognitif. Berbicara terkait kecerdasan, kamu mungkin sudah tidak asing dengan istilah tes IQ, salah satu tes yang dimanfaatkan untuk menilai tingkat kecerdasan seseorang.
Tes IQ atau intelligence quotient merupakan salah satu kualifikasi kecerdasan individu untuk menilai kemampuan relatif terhadap orang lain yang berusia sebaya. Tes ini dapat menjelaskan fungsi kognitif dan hubungannya dengan mental manusia. Nilai IQ yang didapatkan menjadi salah satu ciri psikologis yang paling diwariskan. Selain itu, skor seseorang dalam tes IQ modern menjadi predictor yang baik dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini termasuk aspek kesehatan, karir, usia yang panjang, serta kebahagiaan.
Tes ini mulanya dikembangkan oleh Binet dan Simon pada tahun 1916. Saat itu, mereka melakukan pengujian IQ untuk mengidentifikasi anak-anak dengan gangguan kognitif di sekolah umum Prancis. Anak-anak yang dinilai memiliki gangguan kognitif ini kemudian diberi didikan dan mereka selanjutnya merancang suatu tes yang mengukur bagaimana fungsi kognitif anak akan membentuk kemampuan mentalnya. Hal ini mencakup pemahaman, penilaian, serta penalaran.
Selanjutnya, seorang tokoh bernama Lewis Terman membawa uji ini ke Universitas Stanford dan melakukan beberapa revisi hingga tersusun tes IQ Stanford-Binet. Sejak itulah tes ini beberapa kali dilakukan revisi dan terus digunakan di berbagai negara di seluruh dunia sebagai ukuran kecerdasan.
Seringkali orang salah mengasumsikan bahwa kecerdasan tinggi tercerminkan dengan tingkat pengetahuan yang tinggi. Faktanya, kecerdasan yang tinggi dapat mempromosikan kemudahan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan. Kecerdasan itu sendiri tidak bergantung kepada pengetahuan. Lantas, mengapa beberapa tes IQ memiliki komponen yang menilai aspek pengetahuan?
Individu yang lebih cerdas cenderung mendapatkan lebih banyak pengetahuan. Belajar dianggap lebih mudah bagi seseorang dengan kecerdasan tinggi dibandingkan dengan orang yang memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah. Di sisi lain, pengetahuan dan kecerdasan tidak harus selalu berhubungan. Contohnya, seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi bawaan yang hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit serta kesempatan mendapatkan pengetahuan menjadi lebih terbatas. Hal inilah yang membuat tes IQ dianggap oleh banyak orang sebagai kemampuan bawaan.
Dalam tes IQ dari Satnford-Binet edisi ke-5 (SB5) yang dipublikasikan tahun 2003, klasifikasi yang disusun terhadap hasil tes IQ mencakup:
Rentang IQ 144+, kelompok sangat berbakat atau sangat maju
Rentang IQ 130-144, kelompok berbakat atau maju
Rentang IQ 120-129, kelompok superior
Rentang IQ 110-119, kelompok di atas rata-rata/rerata tinggi
Rentang 90-109, kelompok rata-rata
Rentang 80-89, kelompok di bawah rata-rata/rerata rendah
Rentang 70-79, kelompok IQ dengan borderline impaired or delayed
Rentang 55-69, kelompok IQ dengan gangguan atau keterlambatan ringan
Rentang 40-54, kelompok IQ dengan gangguan atau keterlambatan moderat
Untuk pengelompokan hasil skor IQ, terdapat berbagai versi menyesuaikan jenis tes IQ yang disusun. Hasil tes yang baik didukung dengan motivasi seseorang yang berkompeten, diiringi dengan monitoring berkelanjutan serta adanya umpan balik.
Cukup sekian informasi dari tim Aido, semoga bermanfaat. Simak juga artikel kesehatan lainnya hanya di Aido.
Baca Juga: Makanan yang Tepat untuk Perkembangan Otak Anak
Referensi:
Ganuthula VRR, Sinha S. The Looking Glass for Intelligence Quotient Tests: The Interplay of Motivation, Cognitive Functioning, and Affect. Front Psychol. 2019;10:2857.
https://www.researchgate.net/publication/320383275_IQ_The_Intelligence_Quotient
Kaufman 2009, p.112.
Anda mungkin juga tertarik