Mengenal Retinoid: Amunisi Melawan Penuaan

22 Oct 2020 • Lain-lain

Salah satu kandungan perawatan kulit (skincare) yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir para wanita, terutama wanita dengan usia yang lebih dewasa adalah retinoid.

Ya, retinoid menjadi incaran karena dikatakan dapat membantu melawan tanda-tanda penuaan. Lantas, apa itu retinoid? Bagaimana efeknya terhadap penuaan?

Retinoid bukanlah nama dari satu jenis senyawa, melainkan sekelompok senyawa berbasis vitamin A atau retinol dan berbagai turunannya, baik turunan alami maupun sintetis.

Menariknya, retinoid tepatnya vitamin A tidak dapat diproduksi tubuh, namun dibutuhkan oleh tubuh. Retinoid dibutuhkan sejak masa embriogenesis, yaitu dalam pembentukan sistem saraf, hati, jantung, ginjal, usus, mata, dan anggota gerak.

Selain itu, retinoid digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan seperti rabun senja, jerawat, hingga penyakit berat seperti kanker dan lupus eritematosa.

Berbagai manfaat yang ditawarkan oleh retinoid ini terkait dengan sifat retinoid yang dapat memengaruhi berbagai proses seluler, contohnya pertumbuhan dan diferensiasi sel, alterasi permukaan sel, dan modulasi imun.

Sifat retinoid yang mampu berinteraksi dengan aktivitas seluler juga berhubungan dengan khasiatnya sebagai salah satu produk antipenuaan. Retinoid merupakan senyawa yang larut dalam lemak sehingga dapat menembus lapisan stratum korneum.

Di sana, retinoid berinteraksi dengan sel keratin (keratinosit) yang kemudian membantu proses proliferasi, memperkuat fungsi perlindungan kulit, menjaga kelembaban, dan mencegah degradasi kolagen sehingga mampu mengurangi garis-garis halus dan kerutan pada kulit.

Retinoid juga mampu menembus sedikit lapisan dermis dan menstimulasi pembentukan pembuluh darah baru pada lapisan tersebut yang dapat mencerahkan warna kulit.

Meskipun secara garis besar memiliki manfaat yang serupa, efek yang dihasilkan dari masing-masing retinoid berbeda.

Dua produk retinoid yang paling sering digunakan adalah tretinoin dan retinol. Tretinoin merupakan retinoid yang diresepkan oleh dokter, sedangkan retinol terjual secara bebas.

Tretinoin merupakan retinoid paling ampuh, bahkan 20 kali lebih ampuh dibandingkan dengan retinol, namun lebih sering menimbulkan efek samping berupa iritasi dibandingkan dengan retinol. 

Beberapa studi telah membuktikan bahwa retinoid mampu memperbaiki penuaan pada kulit, bahkan Food and Drug Administration (FDA) telah menetapkan vitamin A dan krim tretinoin yang merupakan retinoid sebagai perawatan antipenuaan.

Akan tetapi, diperlukan waktu 3 sampai 6 bulan bagi retinoid untuk menunjukkan perbaikan pada kerutan dan hasil terbaik dapat dicapai pada bulan ke-6 hingga 12 penggunaan retinoid.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, retinoid dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi sehingga cara penggunaannya perlu diperhatikan.

Biasanya, dokter menyarankan retinoid untuk digunakan setiap dua hari sekali pada awal penggunaan, lalu berlanjut pada penggunaan di malam hari.

Tabir surya juga perlu digunakan jika mengaplikasikan produk retinoid karena dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari.

Referensi:

  1. Do retinoids really reduce wrinkles? [internet]. Harvard Health Publishing; [cited 2020 Jul 4]. Available from: https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/do-retinoids-really-reduce-wrinkles
  2. Zasada M, Budzisz E. Retinoids; active molecules influencing skin structure formation in cosmetic and dermatological treatments. Postepy Dermatol Alergol. 2019 Aug; 36(4): 392–397. doi: 10.5114/ada.2019.87443
  3. Mukherjee S, Date A, Patravale V, Korting HC, Roeder A, Weindl G. Retinoids in the treatment of skin aging: an overview of clinical efficacy and safety. Clin Interv Aging. 2006 Dec; 1(4): 327–348. doi: 10.2147/ciia.2006.1.4.327