Kiat Orang Tua untuk Membangun Hubungan Lekat dengan Anak

22 Jun 2020 • Lain-lain

Semua orang tua tentu ingin anaknya mengenal, mempercayai, dan menjalani hubungan khusus orang tua-anak dengan dirinya.

Namun, banyak sekali orang tua yang menganggap remeh atau bahkan tidak tahu akan adanya peran antara pola pengasuhan dan interaksi orang tua selama masa awal kehidupan anak terhadap hubungan tersebut di kemudian hari.

Konsep kelekatan (attachment) merupakan konsep yang menjelaskan adanya hubungan timbal balik anak dengan pengasuhnya, dan memainkan peran penting dalam perkembangan otak, emosi, dan sosial anak.

Hubungan yang lekat antara orang tua dan anak merupakan hasil dari proses interaksi orang tua dan anak dalam tahun-tahun pertama kehidupan anak.

Pada masa awal kehidupannya, anak bergantung kepada pengasuhnya untuk memenuhi kebutuhannya yang diungkapkan melalui tangisannya. Kebutuhan anak pada masa saat masih bayi meliputi sentuhan pengasuh, kontak mata dengan pengasuh, gerakan, senyuman, dan makanan.

Apabila orang tua dapat memenuhi kebutuhan anak tersebut secara konsisten dalam beberapa tahun pertama kehidupan anak, maka akan terbentuk ikatan emosi sehingga anak dapat merasa aman di lingkungannya tersebut dan merasa dapat mengandalkan orang tua.

Oleh karena itu, apabila bayi menangis, segeralah cari tahu apakah kebutuhan yang diperlukan oleh sang bayi.

Pada usia 2-5 tahun, sang anak akan mulai mengenal konsep emosi dan perilaku yang lebih kompleks, meliputi empati dan simpati. Anak akan cenderung lebih rewel dan nakal sampai pada tingkat tertentu.

Pada usia, anak akan mulai berbagai fungsi kognitif terkait penguasaan diri, belajar mengendalikan emosi, memahami konsep moral dan pertemanan. Anak juga akan mulai membandingkan dirinya dengan anak lain, dan umumnya anak akan belajar lebih banyak dari lingkungannya.

Selama usia-usia ini, orang tua hendaknya terus terlibat dalam kegiatan bersama anak, terus berinteraksi dengan anak, bersama, mendidik anak, dan membantu menciptakan lingkungan yang baik bagi sarana pembelajaran anak dan perkembangan emosi anak.

Ada baiknya orang tua memberikan edukasi mengenai hubungan pertemanan, empati, moral, dan perkembangan diri. Memasuki fase remaja, anak akan lebih independen dari orang tua dan memprioritaskan pandangan dari lingkungan pergaulannya, sehingga penting bagi orang tua untuk mengenal teman-teman sepermainan anak.

Orang tua juga hendaknya mengawasi lingkungan pergaulan anak, karena pada usia ini anak akan lebih rawan melakukan perilaku menyimpang karena tekanan kelompok pergaulannya.

Anak juga akan mengalami fluktuasi mood, sehingga orang tua tidak perlu heran apabila terdapat perubahan drastis pada anak seperti dari periang dan banyak bicara dengan orang tua namun mengacuhkan orang tua keesokan harinya.

Mengenal kebutuhan dan perkembangan emosional anak sangat penting bagi orang tua agar dapat membangun hubungan lebih erat dengan anak. Hendaknya, orang tua tidak pernah melepas anak seutuhnya dan terus membimbing dan berinteraksi dengan anak sampai anak menginjak usia dewasa.

REFERENSI

  1. Bohn J, Holtmann J, Luhmann M, Koch T, Eid M. Attachment to Parents and Well-Being After High School Graduation: A Study Using Self- and Parent Ratings. J Happiness Stud. 2019 Oct. 
  2. Keresteš G, Rezo I, Ajduković M. Links between attachment to parents and internalizing problems in adolescence: The mediating role of adolescents’ personality. Curr Psychol. 2019 Mar.
  3. Hollenstein T, Tighe AB, Lougheed JP. Emotional development in the context of mother–child relationships. Curr Opin Psychol. 2017 Oct 1;17:140–4. 
  4. Mendelsohn AL, Cates CB, Weisleder A, Berkule Johnson S, Seery AM, Canfield CF, et al. Reading Aloud, Play, and Social-Emotional Development. Pediatrics. 2018 May;141(5):e20173393.