Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Badan Anak?

16 Sep 2020 • Tips Kesehatan

Setiap orang tua tentu ingin anaknya dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa tanpa ada kendala atau masalah kesehatan yang mengganggu.

Tentu menjadi kesan tersendiri bagi setiap orang tua ketika dapat melihat anaknya tumbuh semakin besar setiap harinya. Pada umumnya, anak-anak dapat terus bertumbuh sampai usia 18 tahun untuk anak perempuan dan sampai usia 21 tahun untuk anak laki-laki.

Sebelum mencapai batas usia tersebut, tubuh anak akan terus mengalami pertumbuhan, perkembangan, dan menjalani proses pubertas sebelum anak akan memiliki komposisi tubuh selayaknya orang dewasa.

Tinggi badan merupakan salah satu tolak ukur utama yang digunakan oleh orang tua untuk menentukan apakah sang anak terus bertumbuh dengan baik setiap tahunnya.

Beberapa orang tua selalu mengukur tinggi badan anaknya tiap tahun dan memberikan tanda kepada dinding rumah untuk menentukan tinggi anak pada tiap usia tahunan.

Memang, di kehidupan bermasyarakat tinggi badan merupakan salah satu hal yang seringkali dipandang penting, terutama untuk anak laki-laki.

Beberapa penelitian antropologi dan psikologi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa seringkali tubuh yang tinggi sering diasosiasikan dengan keadaan tubuh yang lebih sehat secara tidak sadar.

Tinggi badan merupakan sebuah ukuran yang bersifat multifaktorial, yang berarti tinggi badan dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan.

Dalam hal tinggi badan, genetik merupakan faktor dengan pengaruh terbesar.

Pada umumnya, tinggi badan anak tidak akan banyak berbeda dari kedua orang tua dan merupakan kombinasi genetik antara kedua orang tua.

Namun, masih terdapat faktor lingkungan yang dapat dimodifikasi sehingga orang tua dapat memaksimalkan tinggi badan anak.

Beberapa faktor ditemukan memiliki keterkaitan dengan tinggi badan anak.

Anak yang terlahir pada pasangan dengan kondisi sosioekonomi yang baik umumnya akan memiliki tinggi badan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan teman-teman sebayanya.

Menjaga asupan nutrisi merupakan faktor lain yang ditemukan dapat mendukung pertumbuhan anak.

Ditemukan bahwa asupan nutrisi yang terus dijaga dengan baik secara konsisten dari tahun ke tahunnya turut memaksimalkan proses pertumbuhan sehingga anak akan memiliki tinggi badan yang lebih tinggi pada usia dewasa.

Di luar dugaan, aktivitas fisik ternyata belum memiliki hubungan yang konklusif dengan tinggi badan.

Bahkan, beberapa aktivitas fisik dengan tingkat kebutuhan energi yang sangat tinggi dengan kontrol diet yang ketat seperti gimnastik dan menari ditemukan memiliki keterkaitan dengan tinggi badan yang lebih pendek.

Belum diketahui mekanisme pasti yang mendasari hal ini.

Walaupun genetik memainkan peranan besar dalam menentukan tinggi badan, bukan berarti anak yang terlahir pada pasangan yang pendek akan memiliki tinggi yang pendek juga.

Hendaknya orang tua memaksimalkan faktor-faktor lain seperti nutrisi untuk dapat menjaga pertumbuhan anak agar tetap optimal.

REFERENSI

  1. Perkins JM, Subramanian SV, Davey Smith G, Özaltin E. Adult height, nutrition, and population health. Nutr Rev. 2016 Mar 1;74(3):149–65.
  2. Rogol AD, Clark PA, Roemmich JN. Growth and pubertal development in children and adolescents: effects of diet and physical activity. Am J Clin Nutr. 2000 Aug 1;72(2):521S-528S.
  3. Wronka I, Pawlińska-Chmara R. Childhood Environment and Adult Height among Polish University Students. Coll Antropol. 2009 Dec 1;33(4):1039–45.