Benarkah Diet Protein Tinggi Baik bagi Tubuh?

17 Nov 2020 • Tips Kesehatan

Selang beberapa tahun terakhir diet protein tinggi sempat menjadi tren yang populer. Protein dikonsumsi dalam bentuk suplemen atau dalam porsi yang lebih besar dari biasanya.

Protein merupakan bagian yang penting dari diet sehat. Protein membantu membangun dan memperbaiki otot, organ, dan tulang.

Diet protein tinggi juga terbukti membantu mengurangi lemak, menurunkan berat badan, meningkatkan rasa kenyang, dan mempertahankan otot.

Jumlah protein ideal yang disarankan setiap hari masih belum pasti. Rekomendasi yang umum adalah 56 gram/hari untuk pria, 46 gram/hari untuk wanita.

Berdasarkan persentase kalori, untuk orang dewasa yang aktif, sekitar 10% kalori harus bersumber dari protein.

Mengonsumsi sejumlah besar nutrisi dalam jangka waktu yang lama biasanya disertai dengan risiko, sama halnya dengan protein.

Pada orang sehat, diet protein tinggi umumnya tidak berbahaya jika diikuti dalam waktu singkat. Namun, menurut penelitian, konsumsi protein berlebih dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan tertentu.

Beberapa masalah kesehatan yang dapat terjadi jika diet protein tinggi diikuti dalam waktu yang lama, antara lain:

Konstipasi

Beberapa diet tinggi protein membatasi asupan karbohidrat sehingga menyebabkan kekurangan gizi atau serat. Hal ini dapat menyebabkan masalah seperti bau mulut, sakit kepala dan konstipasi.

Bau mulut mungkin disebabkan karena kondisi metabolisme yang disebut ketosis, yang menghasilkan bahan kimia yang mengeluarkan bau yang tidak menyenangkan.

Diare

Mengonsumsi susu atau makanan olahan secara berlebih, disertai dengan kekurangan serat, dapat menyebabkan diare.

Hal ini terutama terjadi jika seseorang tidak toleran terhadap laktosa atau mengonsumsi sumber protein seperti daging yang digoreng, ikan, dan unggas.

Untuk menghindari diare, minumlah banyak air, hindari minuman berkafein, batasi gorengan dan konsumsi lemak berlebih, serta meningkatkan asupan serat.

Dehidrasi

Tubuh mengeluarkan nitrogen berlebih, yang terdapat pada protein, dengan cairan dan air. Hal ini bisa menyebabkan dehidrasi meskipun tidak ada perasaan dahaga berlebih dari biasanya.

Kerusakan ginjal

Diet tinggi protein dapat memperburuk fungsi ginjal pada orang dengan penyakit ginjal karena tubuh mengalami kesulitan menghilangkan semua produk sisa metabolisme protein.

Kanker

Studi telah menunjukkan bahwa diet tinggi protein tertentu yang berbasis daging merah dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti kanker.

Konsumsi daging merah berlebih dikaitkan dengan kanker kolorektal, payudara, dan prostat.

Penyakit jantung

Mengonsumsi daging merah dan makanan olahan susu berlemak dalam jumlah besar pada diet tinggi protein dapat menyebabkan penyakit jantung karena asupan lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi.

Terlepas dari kenyataan bahwa diet protein tinggi jangka pendek mungkin memberikan manfaat pada beberapa kondisi patologis, seperti malnutrisi, sarkopenia, dan lain-lain.

Terbukti bahwa protein berlebih dalam diet menjadi tidak berguna atau bahkan berbahaya bagi orang yang sehat.

Referensi:

  1. Delimaris I. Adverse Effects Associated with Protein Intake above the Recommended Dietary Allowance for Adults. London: ISRN Nutrition; 2013. 
  2. Harvard Health Publishing. When it comes to protein, how much is too much? [Internet]. 2020 Mar 30 [cited 2020 Ju 25]. Available from: https://www.health.harvard.edu/nutrition/when-it-comes-to-protein-how-much-is-too-much
  3. Zeratsky, K. Are high protein diets safe for weight loss? [Internet]. 2020 Jul 2 [cited 2020 Jul 25]. Available from: https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/expert-answers/high-protein-diets/faq-20058207
  4. Healthline. Are there risks associated with eating too much protein? [Internet]. 2020 Apr 13 [cited 2020 Jul 25]. Available from: https://www.healthline.com/health/too-much-protein