Pentingnya Terapi Rehabilitasi pada Lansia dengan Stroke

05 May 2020 • Stroke

Salah satu penyakit yang sering ditemui pada orang lanjut usia adalah stroke. Pasca terjadinya penyakit seperti stroke, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat beberapa perubahan kemampuan penunjang kehidupan penderita seperti penurunan kemampuan berjalan, berekspresi, hingga berbicara.

Adanya penurunan kemampuan tersebut tentunya akan berdampak pada penurunan kualitas hidup penderita. Untuk itu pada orang dengan stroke, selain mendapat terapi berupa obat-obatan, terapi fungsi tubuh atau rehabilitasi juga diperlukan.

Pengertian dan Tujuan

Dalam pengertiannya sendiri, istilah rehabilitasi diartikan sebagai terapi stroke untuk pemulihan kembali pasien sakit atau cedera pada tingkat fungsional paling optimalnya.

Pada penerapannya dalam penanganan stroke, terapi rehabilitasi memiliki beberapa tujuan. Tujuan pertama tentunya untuk memperbaiki fungsi tubuh yang berkurang karena stroke, terutama motorik, wicara, dan kognitif.

Selain itu, terapi rehabilitasi juga bertujuan untuk membantu proses readaptasi sosial dan mental terkait aktivitas sosial dan hubungan inter personal di kehidupan sehari-harinya.

Pada akhirnya, tujuan utama yang ingin dicapai dari terapi rehabilitasi adalah orang dengan stroke dapat beraktivitas kembali pada tingkatan yang sedekat mungkin seperti sedia kala.

Terapi rehabilitasi terdiri dari prosedur yang dilakukan di rumah sakit dan prosedur lain yang dapat dilakukan di rumah. Ragam bentuknya pun bervariasi dan didukung dengan alat bantu yang bermacam-macam pula bergantung pada sasaran dari prosedur rehabilitasi tersebut.

Sejatinya, penurunan kemampuan pada orang dengan stroke akibat adanya kerusakan pada fungsi otak, berkaitan dengan ketidakmampuan otot-otot untuk berkontraksi sebagaimana mestinya sebagai respons dari penurunan fungsi saraf yang mengoperasikannya.

Dalam kaitannya dengan otot area mulut dan tenggorokan, penurunan fungsi saraf tersebut mengakibatkan gangguan dalam menelan dan berbicara.


Hal ini kemudian mengundang risiko lebih lanjut karena gangguan dalam menelan dapat berakibat fatal seperti tersedak. Adapun gangguan berbicara dapat membatasi kemampuan komunikasi dan berdampak pada kepercayaan diri dan hubungan sosialnya.

Terapi rehabilitasi wicara memiliki dua fokus terapi, yakni kemampuan pelafalan dan kognitif berbahasa. Perbaikan kemampuan pelafalan kemudian terbagi menjadi dua sasaran target, yakni pelatihan kekuatan otot rongga mulut dan pelatihan kontrol otot pernapasan yang memengaruhi pelafalan.

Adapun rehabilitasi fungsi menelan berfokus pada kemampuan menelan, batuk, dan kejadian tersedak.

Pada tahapan awal, dokter atau petugas kesehatan akan melakukan penilaian terhadap status fungsional tubuh untuk menjadi dasar acuan target terapi.

Prosedur yang dapat dilakukan dalam terapi wicara antara lain latihan pelafalan huruf vokal dan konsonan, kata kerja, warna, bentuk bangunan, dan sebagainya.

Sementara itu, prosedur rehabilitasi fungsi menelan dapat dilakukan dengan latihan penelanan makanan atau minuman dengan komposisi dan konsistensi yang beragam dari mulai cair, lunak, hingga keras, secara bertahap.

Pemilihan prosedur terapi bergantung pada hasil penilaian awal dokter  terhadap status fungsional tubuh tersebut.

Selanjutnya, prosedur terapi dilaksanakan di rumah sakit hingga dokter mengizinkan pengobatan rawat jalan dan sebagian prosedur terapi dialihkan menjadi prosedur-prosedur yang dapat dilakukan di rumah.

Untuk itu, sebelum rawat jalan dimulai petugas kesehatan akan memberikan penjelasan terkait terapi rehabilitasi yang perlu dilakukan di rumah selama rentang waktu antara kunjungan rumah sakit satu dengan yang berikutnya.

Hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan oleh keluarga atau pengasuh lantaran adanya pengulangan dalam pelatihan atau repetisi sangat memegang peranan penting dalam rehabilitasi orang dengan stroke mengingat yang coba dikembalikan adalah fungsi tubuh yang terkait dengan kerja saraf.

Pada pelaksanaannya, prosedur rehabilitasi membutuh waktu yang tidak sebentar, serta butuh konsistensi dan repetisi.

Untuk itu adanya sinergisasi atau kerja sama yang baik antara pasien, tenaga kesehatan, serta keluarga diperlukan demi tercapainya target atau tujuan dari pengobatan yakni kembali membaiknya kualitas hidup seperti sedia kala.

Referensi:

  1. Dorland W. Dorland's illustrated medical dictionary. 3rd ed. Philadelphia, Pa.: Saunders/Elsevier; 2012.
  2. Winstein C, Stein J, Arena R, Bates B, Cherney L, Cramer S et al. Guidelines for Adult Stroke Rehabilitation and Recovery. Stroke. 2016;47(6):e98-e169.