Bantuan
Free Tele x

Olahraga pada Penderita Diabetes, Perlu atau Tidak?

Ditinjau oleh dr. Yonathan Heru Suhalim • 16 Sep 2019

Bagikan

Apakah diabetes bisa sembuh dengan olahraga?

Apakah diabetes bisa sembuh dengan olahraga? Aktivitas fisik telah dianggap sebagai salah satu pengobatan untuk penderita diabetes melitus bersama dengan nutrisi dan obat pengendali gula darah sejak lebih dari 100 tahun yang lalu.

 

Diabetes Melitus

Sebagaimana yang telah diketahui, diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronik dengan ciri peningkatan kadar gula darah dalam tubuh, yang disebabkan oleh kadar insulin di dalam tubuh yang rendah ataupun oleh kerja insulin yang tidak optimal untuk menurunkan gula darah. Berdasarkan hasil studi RISKESDAS tahun 2018, diperkirakan hampir 1,5% dari total populasi di Indonesia menderita penyakit diabetes melitus ini.

 

Penanganan Diabetes Melitus

Terkait dengan penanganan pada penderita diabetes melitus, penelitian telah fokus pada penggunaan obat modern, obat tradisional, dan aktivitas fisik. Semua hal tersebut memberikan dampak yang positif pada penderita, namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa terdapat efek samping yang tidak dapat dihindarkan pada penggunaan obat-obatan. Oleh karena itu, aktivitas fisik dan olahraga menjadi pertimbangan untuk memberikan manfaat dalam membantu pengaturan kadar gula darah pada penderita diabetes.

 

Pencegahan Diabetes Melitus

Menurut konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) tahun 2015, latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 tanpa disertai gangguan pada ginjal. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran tetapi dapat menurunkan berat badan dan membuat kerja insulin lebih optimal dalam mengontrol gula darah dalam tubuh.

 

Untuk latihan jasmani yang dianjurkan adalah yang bersifat aerobic dengan intensitas sedang. Contoh dari latihan aerobic ini adalah jalan cepat, bersepeda santai, jogging dan berenang. Untuk frekuensi yang dianjurkan adalah sebanyak 3-5x perminggu dengan durasi total 150 menit perminggu.

Baca Juga: Yuk, Pahami Cara Merawat Luka Diabetes

 

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan terlebih dahulu sebelum melakukan latihan jasmani tersebut yaitu penderita diabetes dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan gula darah sebelum melakukan aktivitas tersebut. Jika gula darah dibawah 100mg/dl maka pasien tersebut harus mengonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan apabila gula darah diatas 250 mg/dl maka penderita dianjurkan untuk menunda latihan jasmani.

 

Latihan lain yang direkomendasikan adalah latihan resistensi. Contoh dari latihan resistensi ini adalah latihan beban. Keuntungan dari latihan resistensi ini adalah selain mengoptimalkan kerja dari insulin, latihan tersebut juga akan meningkatkan kekuatan otot, massa otot yang akan meningkatkan kontrol terhadap gula darah. Namun latihan beban ini tidak diperuntukan kepada penderita diabetes yang mengalami komplikasi gangguan ginjal, gangguan retina mata, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.

 

Namun perlu diperhatikan juga terutama pada pasien diabetes yang sudah mengalami komplikasi jantung karena dapat berisiko menyebabkan berhenti jantung secara tiba-tiba. Oleh karena itu disarankan untuk melakukan pemeriksaan jantung terutama yang berkaitan dengan iskemia miokard sebelum melakukan olahraga tersebut.

 

Sebagai kesimpulannya adalah olahraga sangat dianjurkan terhadap semua penderita diabetes dan jenis olahraga yang dapat dilakukan oleh penderita diabetes beraneka ragam mulai dari jogging, berenang, jalan cepat, bersepeda, dan angkat beban. Jangan lupa pula untuk melakukan konsultasi terlebih dahulu, terutama pada pasien diabetes yang sudah memiliki komplikasi jantung.

 

Cukup sekian informasi yang dapat tim aido berikan, semoga bermanfaat.

Untuk mengetahui lebih lanjut seputar kesehatan, Anda bisa video call langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan Aido Health. Download aplikasi Aido Health di App Store dan Google Play.

Baca Juga: Diabetes Kering Lebih Aman dari pada Diabetes Basah, Benarkah?

 

Referensi:

Hasil utama RISKESDAS 2018

Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia 2015

 

Bagikan artikel ini