Bantuan
Free Tele x

Menyambut Ramadhan, Ini Daftar Penyakit yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa

Ditinjau oleh dr. Alvin Saputra • 22 Apr 2022

Bagikan

siapa saja orang yang diperbolehkan tidak berpuasa

Tahukah Anda bahwa ternyata ada jenis penyakit yang diperbolehkan tidak berpuasa? Bagi umat Muslim, berpuasa merupakan salah satu kewajiban yang harus dijalani selama bulan Ramadhan. Namun, sejatinya orang ada beberapa kalangan yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa karena alasan kesehatan.

Dalam hal ini, mereka yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa adalah mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, yang mana berpuasa dalam hal ini mungkin akan memperparah kondisi yang dialami tersebut. Lantas apa sajakah daftar penyakit yang diperbolehkan tidak berpuasa tersebut? Simak terus penjelasannya pada pembahasan di bawah ini.

Daftar Penyakit yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa

Secara umum, ada dua kalangan yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, yakni mereka yang mengalami sakit parah serta mereka yang memiliki penyakit yang akan menjadi semakin berat apabila berpuasa. Adapun jenis penyakit yang diperbolehkan tidak berpuasa tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Maag akut

Pada dasarnya, puasa merupakan aktivitas yang baik dilakukan untuk menjaga keseimbangan asam lambung. Dalam hal ini, puasa akan meningkatkan kadar hormon rasa lapar (sekresi ghrelin) yang pada dasarnya memiliki hubungan terbalik dengan kadar asam lambung. Oleh karena itu, ketika produksi ghrelin ini meningkat, kadar asam lambung justru akan mengalami penurunan. 

Meskipun demikian, hal ini tidak berlaku untuk penderita maag akut. Berpuasa dalam hal ini justru mungkin akan memperparah kondisi yang dialami. Menunda berpuasa menjadi semakin penting bagi penderita maag akut yang mengalami gejala yang cukup parah seperti muntah dan berkeringat dingin.

  1. Kanker

Sama seperti sebelumnya, berpuasa sejatinya dapat memperlambat perkembangan sel kanker, bahkan dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh agar dapat membunuh sel kanker. Selain itu, berpuasa juga memiliki manfaat besar dalam melindungi penderitanya dari efek samping kemoterapi.

Meskipun begitu, bagi para pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan yang mengharuskannya untuk mengonsumsi obat-obatan dengan teratur, maka puasa sebaiknya tidak dilakukan terlebih dulu. Terutama apabila pasien kanker tersebut sedang menjalani pengobatan kemoterapi yang tidak memungkinkan bagi tubuh untuk mampu menahan lapar dan dahaga selama 12 jam.

  1. Gagal jantung

Seseorang yang memiliki kondisi gagal jantung termasuk kalangan yang tidak wajib menjalani ibadah puasa. Justru sebaliknya, ia harus mampu memastikan agar kondisi tubuh tetap stabil dan tidak semakin parah. Hal ini penting mengingat jantung merupakan organ tubuh yang sangat penting dan agar dapat berfungsi dengan baik, jantung membutuhkan asupan cairan yang cukup.

Pada seseorang yang berada dalam kondisi sehat, kondisi tidak mendapatkan asupan cairan hingga 8 jam lamanya mungkin tidak akan memengaruhi kinerja jantung. Namun, pada penderita penyakit jantung dengan kondisi jantung yang sudah mengalami kerusakan, sangatlah penting untuk menjaga agar asupan cairan tercukupi.

  1. Gangguan hati dan ginjal 

Pasien dengan kondisi gangguan hati dan ginjal merupakan kalangan berikutnya yang tidak berkewajiban untuk berpuasa. Sama seperti penderita penyakit jantung, pasien yang mengalami gangguan hati dan ginjal perlu mendapatkan asupan cairan dan nutrisi dengan baik agar dapat menjaga kedua organ penting tersebut berfungsi dengan optimal. Terlebih lagi jika hati dan ginjal pasien sudah mengalami kerusakan.

Tidak hanya itu saja, penderita ginjal akut yang perlu menjalani cuci darah juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Dalam hal ini, pasien akan menerima suntikan insulin setiap harinya dan perlu menjalani diet tertentu yang diarahkan oleh dokter.

  1. Gula darah tidak stabil

Pasien diabetes yang memiliki kadar gula tidak stabil juga termasuk kalangan yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, terutama mereka yang masih harus bergantung kepada suntikan hormon insulin dosis tinggi setiap harinya dan pasien diabetes yang memiliki komplikasi seperti kerusakan ginjal, saraf, hingga mata.

Bagi para pasien ini, berpuasa akan membahayakan kondisi tubuh, karena saat berpuasa kadar gula dalam darah bisa turun secara drastis hingga menjadi sangat rendah. Ketika hal ini terjadi, maka organ tubuh tidak bisa berfungsi dengan baik dan pada akhirnya mampu memicu kejang hingga tak sadarkan diri.

Demikianlah penjelasan mengenai penyakit yang diperbolehkan tidak berpuasa. Perlu diingat, kondisi setiap orang sangat mungkin berbeda-beda jika kita berbicara mengenai boleh atau tidaknya menjalani ibadah puasa. Untuk itu, akan lebih bijak apabila Anda mengonsultasikan diri ke dokter agar mendapatkan solusi yang tepat sesuai dengan kondisi yang dialami.  

Cukup sekian informasi yang dapat tim aido berikan, semoga bermanfaat.

Untuk mengetahui lebih lanjut seputar kesehatan, Anda bisa video call langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan Aido Health. Download aplikasi Aido Health di App Store dan Google Play.

Baca juga: Memahami Pengertian Puasa dan Manfaatnya dari Kacamata Kesehatan

Ingin penjelasan lebih detail oleh dokter? Pesan konsultasi sekarang!

Doctor

Spesialis Penyakit Dalam

Mulai dari IDR 110.000

Pesan Sekarang
Referensi

Herbert, Tom. 2019. Ramadan 2019: Who is exempt from fasting during the Holy Month. https://www.standard.co.uk/lifestyle/london-life/ramadan-2019-exempt-fasting-during-holy-month-a4141091.html 

Haleem, Amer & Omar. Valid Exemptions for Not Fasting Ramadan. https://www.zakat.org/valid-exemptions-for-not-fasting-ramadan

Beaumont. 2017. Medical considerations when fasting during Ramadan. https://www.beaumont.org/health-wellness/blogs/medical-considerations-when-fasting-during-ramadan 

Bagikan artikel ini    

Ingin penjelasan lebih detail oleh dokter? Pesan konsultasi sekarang!

Doctor

Spesialis Penyakit Dalam

Mulai dari IDR 110.000

Pesan Sekarang

Subscribe newsletter kami!

Dapatkan informasi kesehatan terkini dan promo dari kami