Kencing Manis Jadi Gagal Ginjal, Kok Bisa?

10 Oct 2019 • Diabetes

Ditulis oleh: dr. Yonathan Heru Suhalim

Telah di review oleh: dr. Roy Panusunan Sibarani Sp.PD-KEMD, FES


Apa itu Ginjal?

Ginjal merupakan organ tubuh yang memiliki fungsi dalam mempertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh seperti mengatur keseimbangan cairan tubuh, serta membuang sisa-sisa metabolisme (urea, kreatinin asam urat dan zat kimia asing).

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang bersifat menetap dimana terdapat kegagalan untuk mengatur fungsi keseimbangan cairan dan membuang sisa metabolism sehingga sisa-sisa metabolisme itu akan menumpuk dalam tubuh dan memiliki sifat racun untuk tubuh kita. Gagal ginjal kronik dapat berlanjut menjadi gagal ginjal terminal atau end stage renal disease dimana ginjal sudah tidak mampu lagi untuk mempertahankan substansi tubuh, sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut berupa terapi pengganti ginjal seperti cuci darah dan cangkok ginjal.

 

Apa hubungannya antara kencing manis dan gagal ginjal?

Kencing manis atau diabetes memiliki komplikasi terjadinya gagal ginjal di kemudian hari yang disebut juga diabetic nefropati. Diperkirakan angka kejadian diabetic nefropati hampir mencapai 30 % untuk diabetes tipe 1 dan 40% untuk diabetes tipe 2.

 

Gejala yang ditemukan pada penderita diabetic nefropati ini adalah terjadinya pengeluaran protein yang bernama albumin di dalam urin penderita yang disebut sebagai microalbuminuria atau istilah umum yang sering didengar adalah ginjal mengalami kebocoran.

Terdapat beberapa faktor penting yang diduga dapat menyebabkan perkembangan komplikasi ini. Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol merupakan salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya komplikasi ini. Selain itu tekanan darah tinggi, merokok, konsumsi air, pemilihan jenis obat dan herbal, dan infeksi saluran kemih juga memiliki kontribusi dalam hal ini.

 

Tekanan darah tinggi atau hipertensi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu penyebab dan juga bisa merupakan efek dari diabetic nefropati. Oleh karena itu, hipertensi harus diberikan pengobatan untuk mencegah semakin memburuknya dari komplikasi ini. Obat-obatan hipertensi yang ada, bekerja di ginjal, pembuluh darah, jantung, dan otak. Umumnya yang diberikan adalah obat yang bekerja pada ginjal. Tetapi harus selalu berkonsultasi dengan dokter jika ingin memulai suatu obat.


1. Merokok

Beberapa bukti nyata menunjukkan bahwa merokok meningkatkan risiko dan progresivitas diabetic nefropati. Analisis dari faktor risiko menunjukkan peningkatan 1.6 kali lebih tinggi terjadi nefropati diantara perokok. Pasien dengan DM tipe II yang merokok mempunyai risiko bocornya protein dalam urin lebih besar dibandingkan dengan pasien yang tidak merokok, dan kecepatan progresivitas ke penyakit ginjal terminal lebih cepat dua kali. Dengan berhenti merokok dapat menurunkan risiko progresivitas penyakit ginjal sebesar 30%.

 

2. Konsumsi air yang cukup

Yang dimaksud adalah untuk meminum air yang cukup sesuai kebutuhan tubuh sehari-hari. Hendaknya dikomunikasikan dengan dokter untuk menghitung jumlah cairan yang dibutuhkan setiap harinya.

 

3. Selektif memilih obat dan penggunaan herbal

Untuk memilih obat-obatan hendaknya dilakukan bersama dengan dokter dikarenakan banyak obat-obat yang memengaruhi fungsi dari ginjal dan bahkan memperberat kerja ginjal. Selain itu banyak juga pasien yang menggunakan herbal untuk mengatasi penyakit yang diderita. Untuk herbal sendiri, belum ada yang menganjurkan atau melarang untuk penggunaannya. Namun alangkah baiknya jika ingin menggunakan herbal, berkonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.

 

4. Kadar gula darah

Sebenarnya yang membuat kondisi ginjal kita rusak adalah kadar gula darah yang tinggi dan tekanan darah yang tinggi. Jadi fungsi obat-obatan disini adalah untuk mengontrol kedua hal tersebut sehingga tidak membebani kedua ginjal kita. Dan tentu saja pada beberapa obat-obatan memang ada yang memiliki efek samping terhadap ginjal. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk masyarakat umum berkonsultasi kepada dokter agar dapat lebih mengerti fungsi dari obat-obatan tersebut dan tentu saja dokter yang memberikan obat tersebut telah mempertimbangkan baik buruknya terhadap suatu obat yang digunakan oleh pasien.

 

Referensi:

Toga A. Simatupang, Sumanto WIjaya; Damianus Journal of Medicine 2010

Radica Z. Alicic, Michele T. Rooney, Katherine R. Tuttle; Clinical Journal of the American Society of Nephrology 2017