Apakah Penyakit Kencing Manis Itu?

25 Sep 2019 • Diabetes

Ditulis oleh: dr. Yonathan Heru Suhalim

Telah di review oleh: dr. Roy Panusunan Sibarani Sp.PD-KEMD, FES


Hiperglikemia itu sendiri adalah keadaan dimana terjadinya peningkatan kadar gula darah di atas normal dan hiperglikemia merupakan salah satu tanda khas pada penyakit diabetes melitus.

Berdasarkan konsensus yang dipublikasikan oleh American Diabetes Association (ADA) tahun 2019, terdapat 4 tipe diabetes.

  1. Diabetes tipe 1 (karena adanya penghancuran sel di kelenjar ludah perut oleh tubuh sendiri dan dapat menyebabkan defisiensi insulin secara absolut)
  2. Diabetes tipe 2 (Karena adanya penurunan pengeluaran insulin oleh sel di kelenjar ludah perut dan juga terdapatnya resistensi insulin dimana insulin tidak dapat bekerja secara optimal untuk menurunkan gula darah dalam tubuh kita.
  3. Gestational Diabetes Melitus (GDM) (diabetes yang terdiagnosa pada kehamilan trimester 2 atau 3 dimana sebelumnya tidak pernah diketahui adanya diabetes)
  4. Diabetes tipe spesifik yang disebabkan oleh faktor lain

Pada kelompok masyarakat awam, diabetes tipe 2 ini seringkali disebut penyakit kencing manis dikarenakan pada air seni penderita diabetes banyak dikerubungi oleh semut.

Pada artikel ini hanya akan dibahas tentang diabetes mellitus (DM) tipe 2. WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Berdasarkan hasil studi RISKESDAS tahun 2018 bekerja sama dengan PERKENI diperkirakan hampir 10,9% dari total populasi di Indonesia menderita penyakit diabetes melitus ini.

Bagaimana cara mendiagnosa diabetes?

Untuk menentukan apakah seseorang menderita diabetes adalah dengan pemeriksaan gula darah dari pembuluh darah, sedangkan untuk memantau kadar gula darah bisa dilakukan dengan menggunakan darah kapiler (di ujung jari) dengan glucometer.

Kriteria yang digunakan untuk mendiagnosa diabetes adalah (salah satu di bawah):

  1. Pemeriksaan glukosa darah puasa ≥ 126mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam
  2. Pemeriksaan glukosa darah ≥200 mg/dl 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram
  3. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dl dengan keluhan klasik
  4. Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP)

Pada penderita diabetes lanjut dapat ditemukan keluhan klasik diabetes dan juga keluhan lainnya.

  1. Keluhan klasik diabetes: polyuria (banyak berkemih), polidipsi (banyak minum), polifagi (banyak makan), dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
  2. Keluhan lain: kesemutan, mata kabur, lemah, disfungsi ereksi pada pria, dan lain-lain


 

Bagaimana cara pencegahannya?

Pencegahan dibagi menjadi 3:

1.     Pencegahan primer

  • Ditujukan terhadap kelompok yang memiliki faktor risiko, yaitu mereka yang belum terkena tetapi berpotensi untuk terkena diabetes melitus di kemudian hari.
  • Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi:

i.     Ras dan etnik

ii.    Riwayat keluarga dengan DM

iii.   Umur

iv.   Riwayat melahirkan bayi dengan berat > 4000 gram

v.    Riwayat melahirkan bayi dengan berat < 2500 gram

  • Faktor yang bisa dimodifikasi:

i.     Indeks massa tubuh ≥ 23 kg/m2

ii.    Kurang aktivitas fisik

iii.   Tekanan darah > 140/90 mmHg

iv.    Kadar HDL <35 mg/dl dan/atau trigliserida > 250 mg/dl

v.     Diet yang tidak sehat

  • Faktor lain yang terkait dengan risiko DM

2.     Pencegahan sekunder

  • Upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah terdiagnosis DM
  • Program penyuluhan memegang peranan penting dalam pencegahan sekunder ini terutama dalam kaitan kepatuhan pengobatan.
  • Contohnya adalah pada orang yang sudah terdiagnosa penyakit ini harus dicegah timbulnya komplikasi ke ginjal, mata, dan lain-lain.

3.     Pencegahan tersier

  • Ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut serta meningkatkan kualitas hidup
  • Diperlukan kerjasama dari berbagai ahli di beberapa bidang (jantung, ginjal, mata, saraf, dan lain-lain)
  • Contohnya adalah pada penderita diabetes dengan komplikasi ginjal, harus dijaga agar pasien tersebut tidak sampai melakukan cuci darah.

 

 

Referensi:

Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia 2015

American Diabetes Association; Classification and Diagnosis of Diabetes: Standards of Medical Care in Diabetes 2019

Hasil utama RISKESDAS 2018