Bantuan

Wajib Waspada! Ini Cara Kerja Brainwash atau Cuci Otak

Ditinjau oleh dr. Alvin Saputra • 25 Mar 2022

Bagikan

brainwash

Tentu Anda pernah mendengar istilah brainwash atau cuci otak. Brainwash atau cuci otak ini diketahui pertama kali diperkenalkan di Tiongkok pada tahun 1950. Cuci otak memiliki tujuan untuk memanipulasi manusia guna melakukan hal yang sesuai degan keinginan pelaku. Brainwash adalah usaha atau upaya untuk merekayasa pembentukan ulang tata pikir seseorang. Tak hanya itu, pelaku juga berupaya untuk mengubah perilaku dan kepercayaan korban tersebut. Praktik ini diketahui diperkenalkan dengan adanya bantuan penggunaan dari obat-obatan tertentu. 

Di dalam dunia medis, brainwash disebutkan hampir sama dengan Digital Substraction Angiography atau DSA. DSA ini memiliki tujuan untuk melihat kelainan pembuluh darah yang terjadi pada otak. Misalnya seperti aneurisma atau pelebaran pembuluh darah, stenosis atau penyempitan, AVM atau artery venous malformation, AVF atau artery venous fistule, serta tumor yang mana mengandung pembuluh darah atau biasa disebut meningioma. DSA otak dilakukan dengan prosedur katerisasi pembuluh darah pada otak. Dimana pada perkembangannya, diubah dari tujuan diagnostik ke terapeutik atau trombolisis. Sekarang ini akrab disebut sebagai brain spa. DSA dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah, kemudian dimasukkanlah zat kontras yang terlihat alirannya. Kateter yang digunakan pun merupakan kateter khusus. 

Cara kerja dari brainwash

Setelah mengetahui apa itu brainwash, lalu bagaimana cara kerja cuci otak ini? Di bawah ini adalah beberapa cara kerja brainwash yang penting untuk anda ketahui, agar terhindar dari tindakan yang merugikan ini.

  1. Sikap, perilaku, dan kepercayaan korban yang berubah

Salah satu cara kerja dari brainwash ini adalah dimana pelaku yang berusaha untuk melecehkan korbannya secara emosinal. Korban sering kali dipaksa untuk melakukan perilaku yang menyimpang dengan terus-menerus. Hal ini pelaku lakukan, sambil menanamkan paham moral yang mereka pahami atau anut. Maka dari itu, korban akan merasa bahwa kebiasaan yang dipaksakan tersebut adalah hal yang biasa saja atau baik untuk dilakukan. Sehingga dapat diketahui bahwa pelaku akan berusaha mengubah sikap, perilaku, dan juga kepercayaan yang korban miliki. 

  1. Stres terus-menerus

Selanjutnya adalah korban brainwash yang umumnya akan mengalami stres yang terjadi terus-menerus. Dr, Kathleen Taylor dari Oxford mengungkapkan bahwa otak bisa mengalami perubahan, bila mengalami stres atau tekanan yang mendalam. Kondisi yang stres sering terjadi akan menjadi sasaran bagi para pelaku brainwash ini. Biasanya pelaku brainwash akan berusaha untuk meruntuhkan jati diri, lalu mengenalkan doktrin yang baru. Kemudian setelahnya, pelaku akan membangun jati diri yang baru untuk korbannya. 

  1. Korban diisolasi

Korban dari brainwash akan diisolasi, ini pelaku lakukan agar korban tidak tahu tentang kehidupan sosial di luar. Korban juga tidak akan tahu pandangan luar, yang mana mungkin akan menyebabkan terbentuknya pola pikir asli mereka kembali. Dengan dilakukannya isolasi pada korban, maka semua realita atau kenyataan akan dikendalikan atau dikontrol oleh pelaku. Dimana apa saja yang diperintahkan atau disampaikan oleh pelaku akan jadi realita baru untuk korban.

  1. Kapan pun dan dimana pun

Pelaku brainwash dapat melakukan langkah awal aksinya di mana pun, seperti sekolah, kantor, tempat ibadah, seminat, dan lainnya. Maka dari itu, anda tetap harus waspada setiap saat, memilah informasi yang ada juga menjadi hal yang penting untuk Anda menghindari aksi brainwash ini. Namun, Anda juga tidak perlu cemas atau takut, bahkan menjadi parno karenanya. Laporkan bila ada pihak yang memiliki perilaku mencurigakan terjadi di sekitar Anda. 

  1. Pemikat yang menyenangkan korban

Dimana pelaku akan berusaha meyakinkan korban dengan menggunakan pemikat yang tentunya menyenangkan. Salah satu pemikatnya adalah dengan membelokkan ajaran agama, yakni dengan menjelaskan bahwa dengan korban mengorbankan diri, maka akan masuk surga. Bukan hanya secara spiritual, namun pemikat ini juga bisa berkaitan dengan duniawi misalnya kekayaan. 

Perlu Anda ketahui bahwa brainwash itu sendiri pada dasarnya dapat bertujuan positif dan negatif. Hal ini akan bergantung pada pelakunya. Brainwash positif adalah upaya untuk mengubah pola pikir yang sangat salah menjadi pola pikir yang benar. 

Cukup sekian informasi yang dapat tim aido berikan, semoga bermanfaat.

Untuk mengetahui lebih lanjut seputar kesehatan, Anda bisa video call langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan Aido Health. Download aplikasi Aido Health di App Store dan Google Play.

Tag :
Referensi

cnqzu.com

thenakedscientists.com

cracked.com

Bagikan artikel ini