Idap Tripofobia, Normalkah?

Ditinjau oleh dr. Nanda L Prasetya, MMSc • 23 May 2021

Bagikan

Memiliki rasa takut adalah hal manusiawi, termasuk kepada hal-hal yang dinilai normal untuk ditakuti hingga hal-hal yang dianggap tidak wajar. Rasa takut sendiri merupakan respon normal terhadap suatu bahaya. Di sisi lain, istilah fobia yang seringkali kita dengar merupakan suatu ketakutan berlebihan dan tidak disadari, serta datang secara terus-menerus hingga memicu kecemasan.

Dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM)-5, fobia sendiri dikelompokkan bermacam-macam dengan nama spesifik, menyesuaikan dengan objek yang ditakuti. Gangguan ini juga menjadi gangguan mental paling umum dengan angka kejadian sekitar 13%. DSM-5 juga mengelompokkan subtype fobia spesifik menjadi lima: tipe hewan, tipe situasional, tipe lingkungan alami, tipe terkait darah, suntikan, dan kecelakaan, serta subtype yang dilabeli ‘lainnya’. Salah satu jenis fobia tersebut adalah tripofobia.

Apa itu tripofobia?

Tripofobia merupakan sebutan untuk ketakutan berlebihan, bersifat patologis (penyakit atau gangguan), serta intens terhadap sekelompok atau suatu pola berbentuk lubang, tonjolan, dan semacamnya. Penamaan ini berasal dari bahasa Yunani, trypa (τρύπα) yang berarti lubang atau mengebor. Tripofobia menimbulkan rasa jijik atau tidak nyaman yang kuat kepada penderitanya. Rasa takut ini juga memicu penghindaran aktif dan objek serta memicu tekanan pada penderitanya.

Beberapa objek yang dapat menstimulus penderita tripofobia adalahlubang pada bunga Teratai, spons laut, sarang lebah, serta pola bulat tak beraturan lainnya. Fobia ini belum diakui sebagai fobia yang relevan secara klinis, namun pembahasannya terbilang tinggi di berbagai media, termasuk media sosial.

Apa saja faktor risiko seseorang dapat mengalami tripofobia?

Meskipun belum ada ulasan spesifik terkait faktor risiko seseorang mengalami tripofobia, hasil beberapa penelitian menunjukkan:

  1. Fobia ini berhubungan dengan sosiodemografi dan lebih tinggi terjadi pada perempuan.

  2. Tripofobia seringkali dialami oleh masyarakat berusia remaja dan dewasa.

  3. Gangguan psikiatri komorbid pada penderita fobia umumnya adalah gangguan depresi mayor dan gangguan kecemasan umum.

  4. Umumnya penderita fobia ini memiliki riwayat keluarga yang mengalami hal serupa.

Bagaimana reaksi yang dapat muncul pada penderita tripofobia?

Penderita tripofobia umumnya akan merasa ketakutan, rasa jijik dan tidak nyaman, serangan panik, hingga menimbulkan gejala fisik, seperti merinding, gatal-gatal, dan mual. Sayangnya, tripofobia belum dikarakterisasi dengan baik oleh dokter. Dalam salah satu penelitian juga ditemukan bahwa sebanyak 45,6% penderita tripofobia merasa malu dengan fobia yang dimilikinya.

Bagaimana dokter mengevaluasi adanya gejala tripofobia?

Le dkk. Membuat suatu skala yang membantu mengevaluasi gejala tripofobia melalui 17 kategori. Skala ini disebut dengan kuesioner tripofobia (TQ) dengan reabilitas, sensitivitas, dan spesifisitas yang sangat baik. Hasil eksperimen mereka juga menunjukkan bahwa semakin besar kelompok lubang atau pola bulatan, semakin tinggi ketidaknyamanan penderita tripopobia. 

Kuesioner ini menjadi salah satu media untuk mengevaluasi gejala tripofobia, disamping dengan penilaian dalam ranah psikologi dan psikiatri lainnya. Dari hasil evaluasi, pada kasus fobia berat, dokter mungkin akan memberikan terapi pengobatan berupa sertraline yang dinilai efektif mengatasi fobia serta kecemasan. Hal ini menjadi pertimbangan karena bagaimana pun, gangguan psikologis tetap mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

Apakah fobia ini normal terjadi?

Pada dasarnya, fobia sendiri merupakan suatu gangguan psikologis yang substansial, termasuk tripofobia. Fobia ini juga memiliki hubungan yang signifikan antara tingkat gangguan dengan keparahan gejala dan durasi gejala. Mayoritas penderita tripofobia tidak pernah mencari pengobatan, tetapi dukungan dari media sosial dirasa cukup membantu. Dukungan orang-orang terdekat untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan penderita juga menjadi salah satu upaya dalam penanganan tripofobia.

Baca Juga: Mengenali Tanda Awal Dementia, Kepikunan dan Gejalanya


Referensi:

  1. https://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1516-44462017000400337

  2. https://link.springer.com/article/10.1007/s11031-019-09784-8

  3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5811467/

  4. https://peerj.com/articles/8837/    

Bagikan artikel ini