Bantuan

Faktor Kenapa Siklus Menstruasi Tidak Teratur

Ditinjau oleh dr. Nanda L Prasetya, MMSc • 16 Feb 2021

Bagikan

Faktor Kenapa Siklus Menstruasi Tidak Teratur

Seorang perempuan yang sudah memasuki usia pubertas secara normal akan mengalami menstruasi atau haid. Umumnya, menstruasi pertama terjadi pada rentang usia 12–15 tahun dan berakhir pada sekitar usia 50 tahun.

Siklus menstruasi setiap perempuan beragam, berkisar 21–35 hari dengan rata-rata siklus terjadi per 28 hari. Siklus menstruasi yang teratur menjadi indikator kesehatan sistem reproduksi perempuan. 

Tak jarang, beberapa perempuan masih mengalami siklus yang tidak teratur dengan penyebab berbeda. Siklus tidak teratur dapat berupa lebih cepat atau lebih lambat dari rentang normal atau dari siklus biasanya. Hal ini juga seringkali dikaitkan dengan gangguan fungsi sistem reproduksi, gaya hidup kurang baik, atau penyakit tertentu.

Lalu, apa saja penyebab siklus menstruasi tidak teratur? Mari, simak faktor-faktornya di bawah ini!

Usia pubertas dan pre-menopause

Pada setahun atau dua tahun pertama pasca menstruasi pertama, seringkali remaja mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur. Hal ini tergolong wajar dan seiring bertambahnya usia akan berubah menjadi teratur. Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika usia pubertas sudah berlalu tetapi masih mengalami siklus yang tidak teratur.

Adapun pada wanita yang mendekati usia menopause, siklus menstruasi tidak teratur atau abnormal juga tidak jarang terjadi. Seringkali hal ini dimulai ketika memasuki usia 45 – 55 tahun.

Kista ovarium

Penyakit kista pada ovarium, atau secara medis disebut sebagai sindrom ovarium polikistik (PCOS) menjadi salah satu penyebab umum gangguan siklus menstruasi. Pada penderita kista ovarium, siklus menstruasi umumnya memanjang (>35 hari). Hal ini disebabkan adanya gangguan fungsi ovarium dan gangguan kerja hormon insulin. 

Kista ovarium dipengaruhi oleh faktor lingkungan, diet yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik. Penyakit ini seringkali menyebabkan infertilitas pada perempuan. Gejala yang mungkin kamu rasakan adalah munculnya jerawat, nyeri pada panggul, rambut rontok, dan tumbuhnya rambut di area-area yang umumnya terjadi pada pria.

Gangguan emosional dan psikologis

Gangguan emosi dan psikologis seperti stres seringkali juga menjadi faktor penyebab siklus menstruasi tidak teratur. Hal ini disebabkan kondisi stress dapat mempengaruhi kerja hormon dalam tubuh yang terlibat dalam terjadinya menstruasi. Stres dapat menyebabkan siklus menstruasi menjadi lebih cepat ataupun lebih lambat.

Obat-obatan

Faktanya, beberapa obat dapat mempengaruhi siklus menstruasi, loh! Beberapa contoh obat tersebut adalah obat antidepresan dan antiandrogen. Perempuan yang mengonsumsi kontrasepsi hormonal seperti pil KB atau penggunaan kontrasepsi IUS juga dapat mempengaruhi kerja hormon dan berdampak kepada siklus menstruasi yang tidak teratur.

Diet

Apabila kamu sedang menjalani diet ekstrim yang menyebabkan penurunan berat badan berlebihan dalam waktu singkat, tidak menutup kemungkinan kamu akan mengalami gangguan siklus menstruasi. Hal ini disebabkan perubahan pola makan yang ekstrim berdampak kepada pemenuhan nutrisi tubuh dan mempengaruhi kerja hormon.

Tak hanya itu, diet ekstrim juga seringkali memicu stres. Selain penurunan, peningkatan berat badan dalam waktu singkat juga menjadi salah satu faktor. Jadi, kamu perlu mempertimbangkan pola diet kamu untuk tetap menjaga siklus menstruasi, ya!

Kondisi medis lainnya

Selain kista ovarium, kondisi medis atau penyakit lainnya juga dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Beberapa di antaranya adalah endometriosis, obesitas, dan diabetes melitus tipe 2.

Selain itu, hal ini dapat diperburuk dengan gaya hidup yang kurang sehat, misalnya kebiasaan merokok dan kurangnya aktivitas fisik. Hal yang utama perlu dilakukan tentu mengobati penyakit utama disertai modifikasi dari gaya hidup.

Apabila kamu mengalami gangguan siklus menstruasi, jangan ragu untuk mengenali penyebabnya. Kamu juga bisa berkonsultasi kepada dokter jika memiliki kecurigaan terhadap penyakit-penyakit tertentu atau mengalami gejala lain saat menstruasi.

Referensi

  1. Dovom MR, Tehrani FR, Djalalinia S, Cheraghi L, Behboudi Gandavani S, Azizi F. Menstrual Cycle Irregularity and Metabolic Disorders: A Population-Based Prospective Study. PLoS ONE. 2016 [cited 2021 Jan 31]; 11(12): e0168402.
  2. https://www.nhs.uk/conditions/irregular-periods/#:~:text=You%20have%20irregular%20periods%20if,shorter%20or%20longer%20than%20this.
  3. Kwak Y, Kim Y, Baek KA. Prevalence of irregular menstruation according to socioeconomic status: A population-based nationwide cross-sectional study. PLoS ONE. 2019 [cited 2021 Jan 31];14(3): e0214071.
  4. Bae J, Park S, Kwon JW. Factors associated with menstrual cycle irregularity and menopause. BMC Womens Health. 2018 [cited 2021 Jan 31];18(1):36.
  5. Ndefo UA, Eaton A, Green MR. Polycystic ovary syndrome: a review of treatment options with a focus on pharmacological approaches. P T. 2013 [cited 2021 Jan 31];38(6):336-355.
Tag :
Bagikan artikel ini