Bantuan

Amankah Berpuasa selama Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh dr. Nanda L Prasetya, MMSc • 29 Sep 2020

Bagikan

Amankah Berpuasa selama Pandemi COVID-19?

Hampir semua agama menganjurkan untuk puasa. Di seluruh dunia, sekitar 2 miliar orang Muslim berpuasa selama bulan suci Ramadhan setiap tahunnya. 

Manfaat kesehatan dari berpuasa sangat beragam. Pada awalnya, diyakini bahwa pengurangan produksi radikal bebas oksigen dari metabolisme makanan adalah satu-satunya mekanisme yang berperan terhadap manfaat kesehatan yang diamati selama berpuasa.

Akhir-akhir ini terungkap bahwa puasa dapat mengaktifkan respon sel adaptif tertentu yang dapat meningkatkan pengaturan glukosa, meningkatkan resistensi terhadap stres, dan menekan reaksi inflamasi.

Saat ini, diyakini bahwa puasa dapat mengaktifkan mekanisme pertahanan melawan stres metabolik dan oksidatif yang dapat menghilangkan sel-sel dan molekul yang rusak.

Berbagai penelitian telah menunjukkan dengan jelas bahwa puasa dapat memberikan efek terapeutik pada penyakit, seperti obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, kanker, dan penyakit neurodegeneratif.

Puasa juga memiliki peran dalam melawan penuaan. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa harapan hidup rata-rata dapat meningkat secara signifikan dengan berpuasa. 

Bahkan puasa dapat meningkatkan komposisi, fungsi, dan daya tahan tubuh. Puasa juga dapat meningkatkan fungsi kognitif dalam hal memori, yakni memori spasial, memori asosiatif dan memori kerja, serta dapat mengatasi efek neurotoksik dari obesitas, diabetes, dan peradangan saraf.

Terlepas dari manfaat-manfaat yang sangat banyak dari berpuasa, pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal. Pandemi COVID-19, yang telah menginfeksi sekitar 16,2 juta orang dan menewaskan lebih dari 648.445 orang secara global pada 26 Juli.

Telah meningkatkan kekhawatiran bahwa puasa dapat menimbulkan risiko kesehatan dengan melemahkan kekebalan tubuh dan menyebabkan seseorang lebih rentan tertular virus COVID-19.

Berkumpul bersama keluarga dan teman-teman selama bulan Ramadhan juga memicu kekhawatiran akan kemungkinan terinfeksi. 

Selain itu, ada klaim yang menyatakan bahwa mulut dan tenggorokan kering yang disebabkan oleh puasa dapat meningkatkan risiko terkena virus.

Meskipun hal ini telah dibantah, bukti yang dihasilkan belum cukup kuat untuk dipercaya ataupun disangkal. Dalam hal kekebalan tubuh, ditemukan bahwa puasa tidak menyebabkan penurunan kekebalan.

Sebaliknya, terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa puasa dapat memperkuat sistem kekebalan terhadap infeksi.

Meskipun demikian, kita harus berhati-hati dalam menafsirkan hasil penelitian karena beberapa penelitian telah mengungkapkan konsekuensi yang tidak menguntungkan dari berpuasa.

Misalnya, ada bukti yang menemukan bahwa berpuasa dapat menurunkan kadar IgG yang berperan dalam kekebalan tubuh. 

Tidak ada bukti langsung yang cukup kuat untuk menyatakan efek buruk puasa selama pandemi COVID-19 pada individu sehat.

Demikian pula, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa minum air dapat mencegah infeksi virus korona pada orang sehat. COVID-19 adalah penyakit baru dan jumlah studi mengenai faktor risikonya masih diperlukan.

Referensi:

  1. Javanmard SH, Otroj Z. Ramadan Fasting and Risk of Covid-19. Int J Prev Med. 2020.
  2. Tootee A, Larijani B. Ramadan fasting during Covid-19 pandemic J Diabetes Metab Disord. 2020;19(1):1-4. 
  3. World O Meter. COVID-19 coronavirus pandemic [Internet]. 2020 Jul 26 [cited 2020 Jul 26]. Available from: https://www.worldometers.info/coronavirus/?utm_campaign=homeAdUOA?Si
Bagikan artikel ini