Bantuan
Bantuan

Kanker Serviks

Ditinjau oleh dr. Juliana Ng • 04 Jun 2021

Bagikan

Kanker Serviks

Kanker serviks paling sering disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang mencetuskan perubahan pada sel-sel di leher rahim. Saat seorang wanita terinfeksi HPV, virus dapat bertahan hingga 10 tahun pada serviks hingga akhirnya menimbulkan kanker pada sel-sel di serviks. 

Baca juga: Manfaat Vaksin HPV dan Kapan Waktu yang Tepat

Faktor risiko terkena kanker serviks

  1. Infeksi HPV: HPV adalah penyebab hampir semua kanker serviks. Infeksi HPV paling sering disebabkan oleh hubungan seks tanpa kondom.
  2. Tidak rutin melakukan Pap smear: wanita yang tidak melakukan pap smear secara rutin dapat melewatkan kesempatan menemukan kanker serviks secara dini.
  3. Infeksi HIV atau kondisi lain yang melemahkan sistem imun: HIV melemahkan sistem imun tubuh dan meningkatkan risiko kanker serviks. Mengonsumsi obat-obatan yang menurunkan sistem imun juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks.
  4. Merokok: Wanita yang merokok hampir dua kali lebih mungkin terkena kanker serviks dibandingkan yang bukan perokok.
  5. Diet: Wanita yang kelebihan berat badan serta mengonsumsi makanan rendah buah dan sayuran memiliki risiko terkena kanker serviks lebih tinggi.
  6. Infeksi menular seksual chlamydia: Wanita yang memiliki infeksi menular seksual memiliki risiko kanker serviks lebih tinggi.
  7. Menggunakan pil KB jangka panjang: Menggunakan pil KB selama lima tahun atau lebih mungkin sedikit meningkatkan risiko kanker serviks, tetapi risikonya menurun ketika pil KB dihentikan.
  8. Memiliki banyak anak: Studi menunjukkan bahwa melahirkan tiga anak atau lebih dapat sedikit meningkatkan risiko kanker serviks pada wanita dengan HPV.
  9. Melakukan hubungan seksual sebelum usia 18 tahun: Risiko paparan terhadap HPV lebih awal
  10. Memiliki banyak pasangan seksual dan memiliki pasangan yang memiliki banyak pasangan sendiri: Meningkatkan risiko infeksi HPV
  11. Hamil muda: Wanita yang hamil sebelum usia 17 tahun dua kali lebih mungkin terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang menunggu sampai mereka berusia 25 tahun atau lebih untuk hamil.
  12. Kemiskinan: Banyak wanita berpenghasilan rendah tidak memiliki akses ke layanan kesehatan yang memadai, termasuk pap smear, sehingga mereka tidak diskrining atau dirawat untuk kondisi prakanker.
  13. Riwayat keluarga kanker serviks: Kanker ini dapat diturunkan di dalam keluarga. Wanita yang memiliki ibu atau saudara perempuan yang menderita kanker serviks dua hingga tiga kali lebih mungkin terkena kanker serviks dibandingkan jika tidak ada anggota keluarga mereka yang mengidapnya.
  14. Riwayat penggunaan Diethylstilbestrol (DES): DES adalah obat yang digunakan untuk mencegah keguguran antara tahun 1940 dan 1971. Wanita yang ibunya menggunakan DES saat hamil mengembangkan kanker ini lebih dari yang biasanya diharapkan. Risiko tampaknya paling tinggi pada wanita yang ibunya menggunakan obat tersebut selama 16 minggu pertama kehamilan mereka. Food and Drug Administration (FDA) menghentikan penggunaan DES selama kehamilan pada tahun 1971.

Tanda dan Gejala

Gejala kanker serviks biasanya tidak muncul sampai sel-sel serviks yang abnormal menjadi kanker dan menyerang jaringan di sekitarnya. Gejala yang paling umum adalah perdarahan tidak normal seperti:

  • Perdarahan di antara 2 siklus menstruasi normal

  • Perdarahan setelah berhubungan seksual, douching atau pemeriksaan panggul

Gejala lainnya meliputi:

  • Perdarahan saat menstruasi yang lebih banyak atau berlangsung lebih lama daripada biasanya

  • Perdarahan setelah menopause

  • Keputihan bertambah banyak

  • Keputihan berbau busuk

  • Nyeri di daerah panggul

  • Nyeri saat berhubungan seksual

  • Nyeri saat buang air kecil

Skrining Kanker Serviks

Inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) dan pap smear, keduanya adalah pemeriksaan yang umum digunakan untuk skrining kanker serviks. Pap smear dan IVA direkomendasikan pada saat perempuan mulai melakukan aktivitas seksual atau setelah menikah. Interval pemeriksaan dapat berkisar setiap 3 tahun sekali. Pada kelompok yang berisiko tinggi, pemeriksaan dianjurkan untuk dilakukan setiap tahun.

Setelah pemeriksaan IVA atau pap smear menunjukkan hasil positif, yang berarti ada perubahan sel normal ke arah sel kanker, maka dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.

Diagnosis kanker serviks

Diagnosis kanker serviks dapat ditegakkan oleh dokter dengan melakukan sesi tanya jawab, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti memerlukan pemeriksaan biopsi atau pemeriksaan jaringan serviks.

Pemeriksaan radiologi berupa foto toraks, pielografi intravena, atau CT scan merupakan pemeriksaan penunjang untuk melihat adanya penyebaran penyakit, menentukan stadium, serta menyingkirkan diagnosis sumbatan ureter (saluran dari ginjal ke kandung kemih). Pemeriksaan laboratorium klinik berupa pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan fungsi ginjal, dan pemeriksaan fungsi hati diperlukan untuk mengevaluasi fungsi organ serta menentukan jenis pengobatan yang diberikan.

Baca Juga: Salah Satu Tes untuk Deteksi kanker, Proses Biopsi Adalah?

Stadium kanker serviks

Stadium kanker serviks secara garis besar dapat disingkat menjadi:

Stadium I

Sel-sel kanker telah tumbuh dari permukaan serviks ke jaringan serviks yang lebih dalam. Kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya. 

Stadium II

Kanker telah tumbuh di luar leher rahim dan rahim, tetapi belum menyebar ke dinding panggul atau bagian bawah vagina.

Kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya.

Kanker belum menyebar ke tempat yang jauh.

Stadium III

Kanker telah menyebar ke bagian bawah vagina atau dinding panggul. Kanker mungkin menghalangi ureter (tabung yang membawa urin dari ginjal ke kandung kemih).

Kanker mungkin atau mungkin belum menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya.

Kanker belum menyebar ke tempat yang jauh.

Stadium IV

Kanker telah tumbuh ke dalam kandung kemih atau rektum atau ke organ yang jauh seperti paru-paru atau tulang.

Pengobatan Kanker Serviks

Perawatan untuk kanker serviks bergantung pada beberapa faktor seperti stadium kanker, masalah kesehatan lain, dan preferensi pasien mengenai apakah masih ingin hamil atau tidak. Pembedahan, radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi ketiganya dapat dijadikan pilihan pengobatan.

  • Pembedahan

Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada kanker serviks hingga stadium IIA. Pembedahan yang dilakukan dapat berupa pengangkatan jaringan kanker, pengangkatan serviks (trakelektomi), atau pengangkatan serviks dan uterus. Pilihan tindakan operasi yang terbaik bergantung pada ukuran kanker, stadium, dan pertimbangan kehamilan di masa depan. 

  • Radioterapi

Terapi radiasi dapat dilakukan pada stadium apapun, terutama pada stadium IIB sampai IV atau pada pasien dengan stadium kecil yang tidak dapat dilakukan pembedahan. Terapi radiasi menggunakan pancaran energi bertenaga tinggi seperti sinar-X atau proton untuk membunuh sel kanker. Terapi radiasi sering dikombinasikan dengan kemoterapi dan juga dapat digunakan setelah operasi jika ada peningkatan risiko kanker kembali.

  • Kemoterapi

Kemoterapi adalah pengobatan untuk membunuh sel kanker dengan menggunakan obat melalui injeksi atau dalam bentuk pil. Pada kanker serviks stadium lanjut, kemoterapi dosis rendah sering dikombinasikan dengan terapi radiasi karena kemoterapi dapat meningkatkan efek radiasi. Dosis kemoterapi yang lebih tinggi mungkin direkomendasikan untuk membantu mengendalikan gejala kanker yang sangat lanjut.

Pencegahan Kanker Serviks

Anda tidak selalu dapat mencegah kanker serviks. Namun, ada hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan kemungkinan terkena kanker serviks. Skrining serviks dan vaksinasi HPV adalah cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari kanker serviks. 

Semua wanita dan orang dengan serviks antara usia 21 dan 65 tahun disarankan untuk pemeriksaan serviks secara teratur. Ini membantu mendeteksi dan mengobati setiap perubahan pada sel-sel serviks sebelum berubah menjadi kanker. 

Semua anak berusia 12 hingga 13 tahun diberikan vaksin HPV. Ini membantu melindungi terhadap semua kanker yang disebabkan oleh HPV, serta kutil kelamin. 

Anda juga dapat menurunkan kemungkinan terkena kanker serviks dengan: 

  • menggunakan kondom dapat menurunkan peluang Anda terkena HPV. Perlu diingat  kondom tidak menutupi semua kulit di sekitar alat kelamin Anda sehingga Anda tetap berisiko terinfeksi HPV dan menderita kutil kelamin

  • berhenti merokok karena merokok dapat melemahkan sistem kekebalan Anda dan bahan kimia dalam rokok juga dapat menyebabkan kanker serviks 

  • makan makanan seimbang untuk membantu mendukung sistem kekebalan Anda

Jika Anda mеndараtі аdаnуа gejala аtаu perubahan pada tubuh Anda уаng diduga sebagai kanker serviks, ѕеbаіknуа periksakan kе dоktеr untuk mеndараtkаn dіаgnоѕіѕ dаn penanganan уаng sesuai. Tak hanya itu, lakukan pap smear secara rutin, yang pada umumnya dilakukan 3 tahun sekali.

Demikian informasi mengenai kanker serviks yang dapat tim aido sampaikan, semoga bermanfaat.

Memiliki pertanyaan? Anda bisa berkonsultasi video call langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan Aido Health. Download aplikasi Aido Health di App Store dan Google Play.

Baca juga: Apakah Tumor Jinak Bisa Menjadi Kanker?

Tag :
Referensi

  1. CDC. How Is Cervical Cancer Diagnosed and Treated? Diakses pada 2022.

  2. Johns Hopkins. Cervical Cancer. Diakses pada 2022.

  3. American Cancer Society. Cervical Cancer Stages. Diakses pada 2022.

  4. Cleveland Clinic. Cervical Cancer. Diakses pada 2022.

  5. NHS. Cervical Cancer. Diakses pada 2022.

  6. Mayoclinic. Cervical Cancer. Diakses pada 2022.

Bagikan artikel ini