Bantuan
Bantuan

Hendak Melakukan Vaksinasi COVID-19? Kenali Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Ditinjau oleh dr. Alvin Saputra • 08 Jul 2021

Bagikan

Hendak Melakukan Vaksinasi COVID-19? Kenali Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Lebih ampuh mana sih? Simak perbedaan vaksin sinovac dan astrazeneca ini. Dari hari ke hari, jenis vaksin yang digunakan untuk mengatasi pandemi COVID-19 semakin meningkat. Di Indonesia sendiri, sudah terdapat 7 jenis vaksin yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Beberapa di antaranya yang mungkin sering terdengar adalah vaksin Sinovac yang diproduksi oleh perusahaan biofarmasi Cina dan vaksin AstraZeneca yang merupakan hasil kolaborasi Universitas Oxford dan perusahaan farmasi Inggris, AstraZeneca. 

 

 
Banyak yang kemudian membandingkan kedua jenis vaksin ini. Secara umum, keduanya ternyata memiliki beberapa perbedaan, yang akan dibahas dengan lebih lengkap pada pembahasan berikut ini.

 

 

 
Perbedaan Vaksin Sinovac dan Vaksin AstraZeneca

 

Secara umum, kedua jenis vaksin untuk COVID-19 ini memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Vaksin AstraZeneca menggunakan adenovirus simpanse yang telah dimodifikasi, sedangkan vaksin Sinovac menggunakan teknologi vaksin yang lebih tradisional dengan menggunakan virus yang tidak aktif (inactivated virus). 

 

 
Selain perbedaan tersebut, beberapa perbedaan lainnya di antara kedua jenis vaksin ini adalah sebagai berikut.

 

1.  Efektivitas

Dari segi efektivitasnya, sejatinya kedua jenis vaksin ini, baik vaksin Sinovac maupun vaksin AstraZeneca, masih berada dalam tahap pengujian di seluruh dunia. Meskipun begitu, Anda masih dapat mengetahui efektivitas dari kedua jenis vaksin ini melalui angka tingkat efikasinya.

 

 
Berbicara tentang efikasinya, AstraZeneca mengklaim bahwa vaksinnya memiliki tingkat efikasi sekitar 70%. Namun setelah dilakukan uji klinis, diketahui bahwa tingkat efikasi vaksin AstraZeneca ini hanyalah sekitar 62% pada mereka yang menerima dua dosis penuh, dan sekitar 90% pada mereka yang menerima satu setengah dosis. Untuk rata-ratanya sendiri, tingkat efikasi vaksin AstraZeneca ini berkisar di antara 76%.

 

 

 
Adapun pada vaksin Sinovac, tidak begitu banyak ditemukan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai efikasinya. Namun diketahui bahwa sekitar 97 hingga 100 persen dari mereka yang menerima vaksin pada uji klinis telah mengembangkan antibodi untuk melawan virus COVID-19. Namun ketika dilakukan uji klinis di Chili, vaksin Sinovac ini menunjukkan tingkat efikasi sekitar 56,5%.

 

 

 
2.  Efek Samping

 

Setelah pemberian vaksin untuk COVID-19, baik vaksin Sinovac maupun vaksin AstraZeneca, keduanya menimbulkan beberapa efek samping yang pada dasarnya sama dengan jenis vaksin COVID-19 lainnya, yakni rasa nyeri pada daerah bekas suntikan. 

 

 
Pada vaksin Sinovac, efek samping yang satu inilah yang paling umum dirasakan dan sekitar 17-21% dari mereka yang menerima vaksin Sinovac melaporkan efek samping rasa nyeri pada lokasi suntikan tersebut. Meskipun begitu, rasa nyeri ini dikabarkan merupakan gejala ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu 2 hari saja. Adapun efek samping lainnya yang mungkin ditimbulkan adalah kelelahan, diare, dan nyeri otot.

 

 

 
Sedangkan pada vaksin AstraZeneca, pembekuan darah setelah vaksinasi merupakan gejala yang paling sering dilaporkan. Adapun efek samping lainnya adalah sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, serta demam dan menggigil. Meskipun begitu efek samping ini tergolong sangatlah ringan, dan bisa sembuh dalam waktu beberapa hari saja setelah vaksinasi.

 

 

 
3.  Penyimpanan dan Distribusi

 

Perbedaan vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca berikutnya adalah berkaitan dengan lama penyimpanan dan proses distribusinya. Mengetahui hal ini adalah penting untuk menjaga vaksin tidak rusak dan tetap bisa digunakan dengan baik. 

 

 
Untuk vaksin Sinovac sendiri, lama penyimpanan bisa berkisar hingga waktu 3 tahun dengan disimpan pada lemari pendingin yang bersuhu 2-8 derajat Celcius. Selain itu, perlu diketahui bahwa vaksin yang satu ini harus dihindarkan dari paparan sinar matahari langsung. 

 

 

 
Sementara itu, vaksin AstraZeneca memiliki lama penyimpanan maksimal hanya 6 bulan saja, dengan tempat penyimpanan berupa lemari pendingin bersuhu 2-8 derajat Celcius. Apabila harus dikeluarkan dari lemari pendingin, maka vaksin AstraZeneca ini bisa bertahan selama 6 jam pada suhu 2 sampai 25 derajat Celcius saja, dan harus segera digunakan hingga maksimal 6 jam setelah dibuka. 

 

 

 
Itulah dia perbedaan utama vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca. Apapun jenisnya, pada dasarnya semua vaksin COVID-19 yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI merupakan vaksin yang sudah terjamin keamanannya dan telah melalui standar Organisasi Kesehatan Internasional (WHO). Untuk itu, Anda tidak perlu lagi khawatir ketika melakukan vaksinasi. 

 

 

Referensi :

  • WHO. 2021. WHO validates Sinovac COVID-19 vaccine for emergency use and issues interim policy recommendations.
  • WHO. 2021. The Oxford/AstraZeneca COVID-19 vaccine: what you need to know.
  • WHO. 2021. The Sinovac COVID-19 vaccine: what you need to know.
  • Yanjung Zang, Gang Zeng et. al. 2021. Safety, tolerability, and immunogenicity of an inactivated SARS-CoV-2 vaccine in healthy adults aged 18–59 years: a randomised, double-blind, placebo-controlled, phase 1/2 clinical trial. The Lancet Infectious Diseases Vol. 21 Issue 2, Page: 181-192.
Tag :
Bagikan artikel ini