Obat

Efavirens

Ditinjau oleh dr. Nanda L Prasetya, MMSc • 01 Jul 2021

Bagikan

Efavirens

Efavirenz adalah obat golongan antiretroviral (ARV) yang bekerja dengan menghambat enzim reverse transcriptase. Obat ini merupakan ARV jenis non-nukleosida dan penggunaannya sering dikombinasikan dengan ARV jenis nukleosida (zidovudin, lamivudin, tenofovir, dll.) Obat ini digunakan sebagai terapi infeksi virus HIV, baik pada anak-anak maupun pada dewasa.


Efavirenz tersedia dalam sediaan oral (tablet ataupun kapsul). Dosis efavirenz untuk terapi infeksi HIV adalah 600 mg satu kali sehari. Obat ini sebaiknya diminum saat sebelum tidur selama 2-4 minggu pertama untuk meningkatkan toleransi terhadap obat.


Efek Samping

Penggunaan efavirenz dapat menimbulkan efek samping berupa peningkatan kadar kolesterol darah, diare, pusing, ruam kulit, demam, gangguan tidur, mual, muntah, batuk, hingga depresi dan kecemasan. Gejala lain seperti gatal, sulit berkonsentrasi, penurunan kesadaran, peningkatan kadar gula darah, nyeri perut, penurunan nafsu makan, hingga halusinasi juga dapat terjadi, tetapi lebih jarang.


Efavirenz juga dapat menimbulkan efek samping lain, seperti kelelahan, redistribusi lemak tubuh, sindrom rekonstitusi imun, telinga berdenging, penglihatan kabur, kejang, tremor, hingga sesak napas. Efek samping yang cukup fatal pada penggunaan efavirenz adalah dapat terjadinya sindrom Stevens-Johnson (alergi obat berat), hepatitis, gagal hati, dan depresi yang berujung pada rasa ingin mengakhiri hidup. Segera konsultasikan ke dokter bila terjadi efek samping penggunaan efavirenz terutama bila efek samping yang muncul berat dan mengancam jiwa.


Kontraindikasi

Efavirenz dilarang diberikan pada pasien dengan:

  • Riwayat reaksi alergi berat

  • Riwayat keluarga meninggal mendadak, terutama karena adanya kelainan pada rekam jantungnya

  • Gangguan elektrolit

  • Gangguan hati berat

  • Hamil trimester pertama (kategori kehamilan D karena dapat meningkatkan risiko kecacatan pada janin yang sedang dikandung ibu)

  • Ibu menyusui.


Peringatan

Beritahu dokter Anda sebelum memulai terapi dengan efavirenz bila Anda memiliki kondisi atau riwayat penyakit berikut:

  • Kejang

  • Gangguan jiwa

  • Penggunaan obat-obatan terlarang atau NAPZA

  • Infeksi hepatitis B atau C

Selain kondisi-kondisi tersebut, pasien dengan gangguan hati dan ginjal tidak disarankan menggunakan efavirenz. Pada anak-anak atau wanita yang sedang mengandung pada usia kandungan trimester ke-2 dan ke-3, penggunaan obat ini juga tidak disarankan.


Penggunaan efavirenz tidak ditujukan untuk menjadi obat tunggal karena harus dikombinasikan dengan obat lainnya atau sebagai tambahan bila terapi dengan obat sebelumnya gagal. Obat ini juga dapat berinteraksi dengan obat lainnya sehingga pastikan Anda telah menyampaikan semua obat yang rutin Anda minum kepada dokter sebelum memulai pengobatan dengan efavirenz.


Karena adanya kemungkinan efek samping berupa pusing, penurunan kesadaran, dan gangguan konsentrasi pada penggunaan efavirenz, hindari menyetir atau mengoperasikan alat-alat sendiri bila mengalami gejala tersebut. Pengobatan infeksi HIV juga bukan merupakan hal yang instan sehingga dalam mencegah penularan, terutama kepada pasangan Anda, mintalah nasehat dokter untuk melakukan hal-hal yang tepat dalam mencegah penularan virus HIV.


Referensi:

  1. Efavirenz. MIMS Indonesia. Available from: https://www.mims.com/indonesia/drug/info/efavirenz?mtype=generic  
  2. Efavirenz (Rx). Medscape. Available from: https://reference.medscape.com/drug/sustiva-efavirenz-342610  
Bagikan artikel ini