Penyakit

Asma Bronkial

Ditinjau oleh dr. Nanda L Prasetya, MMSc • 04 Jun 2021

Bagikan

Asma Bronkial

Asma bronkial adalah penyakit saluran napas kronis yang menyerang berbagai usia dan biasanya dimulai sejak masa kanak-kanak. Penyebab penyakit asma ini adalah suatu reaksi alergi yang kompleks dan menyebabkan respons berlebihan dari saluran pernapasan, utamanya bronkus. Asma diklasifikasikan menjadi 4 golongan berdasarkan tingkat keparahannya

  1. Asma intermiten. Asma ini ditandai dengan gejala kurang dari 1 kali per minggu dan gejala malam kurang dari 2 kali per bulan, fungsi paru normal.

  2. Asma persisten ringan. Asma ini ditandai dengan gejala lebih dari 1 kali per minggu dan gejala malam kurang dari 1 kali per bulan, fungsi paru normal

  3. Asma persisten sedang. Asma ini ditandai dengan gejala sepanjang hari dan gejala malam lebih dari 1 kali per minggu, fungsi paru mulai menurun

  4. Asma persisten berat. Asma ini ditandai dengan gejala sepanjang hari dan lebih parah pada malam hari, fungsi paru menurun cukup drastis.


Tanda dan gejala 

Asma ditandai dengan gejala-gejala yang mengganggu saluran napas, yaitu:

  1. Mengi. Suara mengi atau ngik ngik yang terdengar tanpa atau menggunakan stetoskop merupakan salah satu gejala asma yang paling dominan. Suara mengi ini terjadi karena adanya penyempitan saluran napas.

  2. Batuk. Batuk merupakan gejala yang umum pada penyakit saluran napas, termasuk asma.

  3. Sesak napas. Penyempitan saluran napas yang terjadi pada asma menyebabkan penderitanya merasakan sesak napas

  4. Sensasi terikat atau nyeri dada. Penyempitan saluran napas tersebut dapat menyebabkan sensasi yang tidak enak seperti dada yang diikat oleh tali yang erat.


Diagnosis

Asma didiagnosis oleh dokter dengan menanyakan gejala yang dialami penderita serta mendengarkan suara paru penderita. Selain itu, alat seperti pulse oximetry dapat digunakan untuk menilai berapa banyak oksigen yang ada di darah penderita. Dokter juga dapat melakukan uji fungsi paru untuk melihat keparahan asma. Tes alergi juga cukup penting untuk mengetahui alergen yang memicu gejala asma pada penderita. Foto X-ray dada dapat dilakukan untuk melihat kelainan organ paru dan sekitarnya.


Pengobatan

Asma merupakan penyakit yang didasari oleh reaksi alergi. Oleh karena itu, hal utama yang harus dilakukan penderita adalah menghindari terpapar alergen/ bahan-bahan yang menyebabkan alergi. Biasanya penderita alergi terhadap tungau debu rumah, bulu hewan, karpet, gorden, dan lain-lain. Penderita asma juga disarankan untuk menjalankan pola hidup sehat, seperti olahraga dengan intensitas sedang 3-5 kali per minggu, serta menjaga berat badan agar tidak obesitas. Selain itu, penderita dapat mengonsumsi beberapa jenis obat untuk meredakan asma. Jika asma yang terjadi merupakan serangan akut. Biasanya dokter akan meresepkan obat pereda gejala/ reliever. Obat reliever biasanya merupakan golongan short acting beta agonists (SABA) dikombinasikan dengan obat golongan antikolinergik dan kortikosteroid. Penderita asma selanjutnya akan mendapatkan obat untuk mengontrol gejala/ controller. Obat controller biasanya merupakan golongan long-acting beta agonists (LABA), kortikosteroid hingga leukotriene receptor antagonists.


Daftar pustaka

  1. Peters SP, Ferguson G, Deniz Y, Reisner C. Uncontrolled asthma: A review of the prevalence, disease burden and options for treatment. Respiratory Medicine. 2006: 100(7);1139-51. Available from: https://doi.org/10.1016/j.rmed.2006.03.031. 

  2. Asthma. Mayo Clinic. [cited December 1, 2020]. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/diagnosis-treatment/drc-20369660 

  3. Mosenifar Z [editor]. Asthma medication. [cited December 1, 2020]. Available from:  https://emedicine.medscape.com/article/296301-medication 

Bagikan artikel ini