Stroke, Kenali Jenis dan Bahayanya!

20 Apr 2020 • Stroke

Pada tahun 2018, WHO mengeluarkan hasil survey yang menunjukkan bahwa stroke menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian terbanyak di dunia, yakni mencapai sekitar 6 juta kematian sepanjang 2010-2016.

Di Indonesia sendiri, menurut Riskesdas 2013 penyakit jantung koroner termasuk stroke menempati urutan ke-7 sebagai penyebab kematian terbanyak di Indonesia, dengan prevalensi 12.9%.

Berbagai upaya promosi kesehatan telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan ancaman atau bahaya terhadap kesehatan ini serta upaya pengenalan dan penanganan diri.

Salah satu contoh program yang tengah digalakkan pemerintah adalah kampanye CERDIK, GERMAS, dan SEGERA. Akan tetapi, sayangnya, gaya hidup seperti pola makan dan perilaku merokok selalu saja menjadi momok pemberat risiko kejadian yang sulit untuk diubah.

Sejatinya, stroke didefinisikan sebagai suatu kumpulan gejala dari serangan hebat yang datangnya mendadak dan berdampak luas pada kesehatan tubuh akibat dari adanya penurunan fungsi otak.

Berdasarkan penyebabnya, stroke kemudian dikategorikan menjadi tiga jenis, stroke iskemi, stroke hemoragi, dan stroke transien. Lalu, apa perbedaan antara ketiganya? Apakah ketiganya dapat disembuhkan?

Stroke iskemi merupakan jenis stroke yang paling banyak ditemui. Sekitar 87% kasus stroke di dunia tergolong dalam jenis ini. Stroke iskemi terjadi ketika aliran darah pada pembuluh darah di otak mengalami penyumbatan sehingga pasokan oksigen dan nutrisi bagi otak terhalang lalu menyebabkan otak kekurangan oksigen dan nutrisi (hipoksia) dan berujung pada penurunan fungsi otak.

Sumbatan tersebut dapat berupa bekuan dara yang beredar di sirkulasi maupun gumpalan metabolit seperti kolesterol. Pada stroke jenis ini, harapan sembuh yang dimiliki cukup tinggi apabila kasus ditangani dengan tepat dan cepat.

Jenis stroke yang kedua adalah stroke hemoragi. Stroke jenis ini terjadi ketika pecahnya pembuluh darah otak mengakibatkan darah menggenangi sel-sel otak sehingga terjadi ketidakseimbangan tekanan cairan pada lingkungan sel otak dan berujung pada kerusakan sel otak.

Pecahnya pembuluh darah ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti tingginya tekanan darah, adanya kelainan pada dinding pembuluh darah, serta adanya sumbatan pada pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya tekanan yang melebihi kapasitas daya tahan dinding pembuluh darah.

Pada stroke hemoragi, harapan sembuh yang dimiliki tergolong rendah karena kerusakan sel otak yang ditimbulkan bersifat permanen dan tidak bisa dikoreksi dengan oksigenasi seperti pada stroke iskemi. Diperlukan penanganan spesialistik tersendiri dalam kasus stroke ini.

Jenis stroke terakhir dan yang juga merupakan penemuan terbaru sepanjang beberapa dekade terakhir berjalan yang terus mengundang peneliti kesehatan untuk menggali lebih lanjut terkait penyakit ini, yakni stroke transien iskemi. Di Indonesia, stroke jenis ini dikenal dengan istilah 'stroke ringan'.

Dari namanya dapat diperkirakan derajat penyakit ini sedikit lebih tidak mengkhawatirkan dibandingkan dua jenis lainnya yang telah dijelaskan di awal, sehingga terapi stroke dari terapis profesional dapat dilakukan di masa penyembuhan bagi penderita.

Stroke transien iskemi ditandai dengan gejala stroke yang terjadi dalam waktu yang cukup singkat, yakni kurang dari 5 menit. Hal ini disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah pada pembuluh darah otak selama beberapa saat yang singkat.

Selanjutnya, stroke transien iskemi menjadi acuan yang penting untuk diperhatikan karena kehadirannya dapat menjadi peringatan tersendiri terhadap risiko terjadinya ‘stroke berat’ atau stroke jenis lainnya.

Oleh karena kejadian penyumbatannya berlangsung sangat singkat, stroke jenis ini memiliki harapan hidup tertinggi di antara ketiganya. Akan tetapi di sisi lainnya, masih banyak pula kasus-kasus yang belum ditemukan lantaran gejalanya yang kurang spesifik.

Ketiga jenis stroke di atas memiliki tingkatan bahaya yang beragam. Akan tetapi, yang terpenting tentunya bukanlah mengobati melainkan mencegah.

Selalu jaga kesehatan dengan mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat, perbanyak aktivitas fisik (olahraga), dan jangan merokok untuk menjauhkan risiko stroke di kemudian hari!

Referensi:

  1. Dorland W. Dorland's illustrated medical dictionary. 32nded. Philadelphia, Pa.: Saunders/Elsevier; 2012. P1786.
  2. WHO. Global health estimates 2016: death by cause, age, sex, and region. 2000-2016. Geneva:WHO; 2018.
  3. P2PTM Kemenkes RI. Germas cegah stroke[internet]. Oct 25, 2018[disitasi Sept 1, 2018].  Diunduh dari: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/germas-cegah-stroke
  4. National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion, Division for Heart Disease and Stroke Prevention. Types of stroke[internet]. May 3, 2018 [disitasi Sept 1, 2018]. Diunduh dari: https://www.cdc.gov/stroke/types_of_stroke.htm